Tampilkan postingan dengan label Kitab Bhagavad Gita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Bhagavad Gita. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Maret 2017

Kitab Bhagavad Gita Bab 18

Bab 18

Samnyasa Yoga
Penyangkalan harus dilakukan pada Hasil Kegiatan, bukan pada Kegiatan itu sendiri.

18-1
arjuna uvaca
sannyasasya maha-baho
tattvam icchami veditum
tyagasya ca hrishikesha
prithak kesi-nisudana

Arjuna bertanya:
Wahai Mahabaho (Krsna),
aku ingin mengetahui sifat sejati dari penyangkalan (samnyasa) dan pelepasan (tyaga), wahai Hrsikesa (Krsna),
masing-masing dari padanya, wahai Kesinisudana (Krsna)

18-2
sri-bhagavan uvaca
kamyanam karmanam nyasam
sannyasam kavayo viduh
sarva-karma-phala-tyagam
prahus tyagam vicakshanah

Sri Bhagavan bersabda:
Orang-orang bijak mengartikan kata “penyangkalan” sebagai pelepasan terhadap kegiatan kerja yang didorong oleh keinginan; pelepasan hasil dari segala kegiatan kerja,
para terpelajar menyatakan sebagai tyaga

18-3
tyajyam dosa-vad ity eke
karma prahur manisinah
yajna-dana-tapah-karma
na tyajyam iti capare

Kegiatan kerja hendaknya ditinggalkan sebagai kejahatan, demikian kata beberapa orang terpelajar,
tetapi yang lainnya menyatakan bahwa kegiatan yajna, dana dan tapah jangan ditinggalkan.

18-4
niscayam shrinu me tatra
tyage bharata-sattama
tyago hi purusha-vyaghra
tri-vidhah samprakirtitah

Sekarang dengarkanlah dari Ku, wahai Bharatasattama (Arjuna),
kebenaran tentang tyaga,
tyaga itu, wahai Purusavyagrha (Arjuna),
ada tiga macam.

18-5
yajna-dana-tapah-karma
na tyajyam karyam eva tat
yajno danam tapas caiva
pavanani manisinam

Kegiatan yajna, dana dan tapah jangan ditinggalkan tetapi harus dilaksanakan;
karena kegiatan itu memurnikan orang-orang bijaksana

18-6
etany api tu karmani
sangam tyaktva phalani ca
kartavyaniti me partha
niscitam matam uttamam

Tetapi kegiatan kerja inipun hendaknya dilaksanakan dengan melepaskan keterikatan dan keinginan pada hasilnya.
Wahai Partha (Arjuna), hal ini merupakan keputusan-Ku dan pendapat-Ku yang terakhir.

18-7
niyatasya tu sannyasah
karmano nopapadyate
mohat tasya parityagas
tamasah parikirtitah

Sesungguhnya melepaskan kewajiban yang harus dilakukan adalah tidak benar. Meninggalkan kewajiban karena kebodohan dinyatakan sebagai sifat dari tamasa

18-8
duhkham ity eva yat karma
kaya-klesa-bhayat tyajet
sa kritva rajasam tyagam
naiva tyaga-phalam labhet

Ia yang meninggalkan kewajiban karena kesusahan
atau karena takut akan penderitaan fisik,
hanya melakukan tyaga yang bersifat rajasa dan tak akan memperoleh hasil dari tyaga tersebut.

18-9
karyam ity eva yat karma
niyatam kriyate ’rjuna
sangam tyaktva phalam caiva
sa tyagah sattviko matah

Tetapi dia yang melaksanakan kewajiban yang diharuskan sebagai hal yang harus dilakukan dengan meninggalkan segala keterikatan dan juga hasilnya,
tyaga ini dianggap sebagai bersifat sattvika

18-10
na dvesty akusalam karma
kusale nanusajjate
tyagi sattva-samavisto
medhavi chinna-samsayah

Orang bijaksana yang penyangkalan dan keragu-raguannya telah lenyap,
yang sifatnya sattvika,
tidak membenci melakukan kegiatan yang tak menyenangkan
dan tidak terikat dengan kegiatan kerja yang menyenangkan.

18-11
na hi deha-bhrta sakyam
tyaktum karmany asesatah
yas tu karma-phala-tyagi
sa tyagity abhidhiyate

Memang tak mungkin bagi mahluk berwujud untuk absen dari kegiatan kerja sama sekali; tetapi ia yang melepaskan hasil dari kegiatan kerja itu dikatakan sebagai tyagi sejati.

18-12
anistam istam misram ca
tri-vidham karmanah phalam
bhavaty atyaginam pretya
na tu sannyasinam kvacit

Menyenangkan,
tak menyenangkan
dan campuran adalah tiga macam hasil dari kegiatan kerja yang tumbuh setelah kematian terhadap mereka yang belum menjadi tyagi; tetapi tak ada sesuatupun yang terjadi bagi mereka yang telah menjadi samnyasin

18-13
pancaitani maha-baho
karanani nibodha me
sankhye kritante proktani
siddhaye sarva-karmanam

Wahai Mahabaho (Arjuna),
pelajarilah dari-Ku kelima faktor ini,
guna menyelesaikan segala kegiatan kerja seperti yang dinyatakan dalam ajaran Samkhya.

18-14
adhisthanam tatha karta
karanam ca prithag-vidham
vividhas ca prithak cesta
daivam caivatra pancamam

Tempat kedudukan kegiatan (badan) dan juga pelaku,
alat berbagai jenis,
segala macam usaha
dan anugerah Tuhan sebagai yang kelima.

18-15
sarira-van-manobhir yat
karma prarabhate narah
nyayyam va viparitam va
pancaite tasya hetavah

Kegiatan kerja apapun yang dilakukan seseorang dengan badan,
kata-kata atau pikirannya,
apakah benar atau salah,
kelima unsur inilah sebagai faktor penyebabnya

18-16
tatraivam sati kartaram
atmanam kevalam tu yah
pasyaty akrita-buddhitvan
na sa pasyati durmatih

Demikianlah masalahnya dengan pikiran yang tak murni,
yang disebabkan oleh pemahamannya yang tak terlatih,
memandang dirinya sendiri sebagai satu-satunya pelaku,
sebenarnya ia tidak melihat apapun

18-17
yasya nahankrto bhavo
buddhir yasya na lipyate
hatvapi sa imaû lokan
na hanti na nibadhyate

Ia yang bebas dari rasa keakuannya,
yang pemahamannya tak tercemari,
walaupun ia membunuh orang-orang ini, sebenarnya ia tak membunuh
ataupun terbelenggu oleh kegiatannya.

18-18
jnanam jneyam parijnata
tri-vidha karma-codana
karanam karma karteti
tri-vidhah karma-sangrahah

Pengetahuan,
obyek pengetahuan
dan yang mengetahui pengetahuan itu
adalah tiga pendorong untuk melakukan kegiatan kerja;
alat, kegiatan dan pelaku adalah tiga macam gabungan dari kegiatan

18-19
jnanam karma ca karta ca
tridhaiva guna-bhedatah
procyate guna-sankhyane
yathavac chrnu tany api

Pengetahuan,
kegiatan kerja
dan pelaku
dikatakan dalam ilmu tentang sifat-sifat (guna) hanya tiga jenisnya,
sesuai dengan perbedaan guna tersebut. Dengarkan tentang hal ini dengan sebenarnya.

18-20
sarva-bhutesu yenaikam
bhavam avyayam iksate
avibhaktam vibhaktesu
taj jnanam viddhi sattvikam

Pengetahuan yang dipakai untuk melihat Keberadaan Abadi pada segala eksistensi, yang tak terbagi dalam yang terbagi,
ketahuilah bahwa pengetahuan itu adalah sattvika

18-21
prithaktvena tu yaj jnanam
nana-bhavan prithag-vidhan
vetti sarveshu bhutesu
taj jnanam viddhi rajasam

Pengetahuan yang melihat kejamakan keberadaan pada mahluk-mahluk yang berbeda,
dengan alasan keterpisahannya,
ketahuilah bahwa pengetahuan itu bersifat rajasa.

18-22
yat tu krtsna-vad ekasmin
karye saktam ahaitukam
atattvartha-vad alpam ca
tat tamasam udahrtam

Tetapi yang bergantung hanya pada satu akibat seakan-akan keseluruhan tanpa perduli pada penyebab,
tanpa mendapatkan yang sejati,
dan sempit (picik) dinyatakan sebagai bersifat tamasa

18-23
niyatam sanga-rahitam
araga-dvesatah kritam
aphala-prepsuna karma
yat tat sattvikam ucyate

Suatu kegiatan yang bersifat wajib,
yang dilaksanakan tanpa keterikatan,
tanpa kasih sayang
atau kebencian oleh orang yang tak mengharapkan hasil,
itu dikatakan sebagai sattvika

18-24
yat tu kamepsuna karma
sahankarena va punah
kriyate bahulayasam
tad rajasam udahrtam

Tetapi kegiatan kerja yang dilakukan dengan usaha keras oleh seseorang yang mencari pemenuhan keinginannya
atau yang didorong oleh keakuan,
dikatakan sebagai bersifat rajasa

18-25
anubandham ksayam himsam
anapeksya ca paurusam
mohad arabhyate karma
yat tat tamasam ucyate

Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebodohan,
tanpa memperdulikan akibat atau kerugian
dan melukai,
serta tanpa memandang kemampuannya, kegiatan dikatakan bersifat tamasika

18-26
mukta-sango ’naham-vadi
dhrty-utsaha-samanvitah
siddhy-asiddhyor nirvikarah
karta sattvika ucyate

Si pelaku yang bebas dari keterikatan,
yang tak memiliki rasa keakuan,
penuh keteguhan hati
dan bersemangat
dan yang tak terpengaruh oleh kegagalan atau keberhasilan,
dikatakan sebagai bersifat sattvika

18-27
ragi karma-phala-prepsur
lubdho himsatmako ’sucih
harsa-sokanvitah karta
rajasah parikirtitah

Pelaku yang diombang-ambingkan oleh nafsu, yang sangat merindukan hasil dari kegiatannya,
yang bersifat serakah
dan bersifat menyakiti,
tidak murni,
yang dipengaruhi oleh rasa senang dan sedih, dikatakan sebagai bersifat rajasa

18-28
ayuktah prakritah stabdhah
satho naiskritiko ’lasah
visadi dirgha-sutri ca
karta tamasa ucyate

Pelaku yang pikirannya tak seimbang,
vulgar (biadab),
sombong,
tidak jujur,
bersifat jahat,
bebal,
pengecut
dan suka mengulur-ulur waktu,
dikatakan sebagai yang bersifat tamasa

18-29
buddher bhedam dhrtes caiva
gunatas tri-vidham shrinu
procyamanam asesena
prithaktvena dhananjaya

Sekarang dengarkanlah tiga macam perbedaan pemahaman dan juga kemantapan, wahai Dhananjaya (Arjuna),
sesuai dengan sifat (guna) yang dinyatakan secara keseluruhan
dan masing-masing dari padanya.

18-30
pravrttim ca nivrttim ca
karyakarye bhayabhaye
bandham moksham ca ya vetti
buddhih sa partha sattviki

Pengertian yang mengetahui makna kegiatan kerja dan tanpa kegiatan kerja,
apa yang boleh dilakukan dan apa yagn tak boleh dilakukan,
apa yang ditakuti dan apa yang tak harus ditakuti,
apa yang membebaskan dan apa yang membelenggu, wahai Partha (Arjuna) pengertian tersebut bersifat sattvika.

18-31
yaya dharmam adharmam ca
karyam cakaryam eva ca
ayathavat prajanati
buddhih sa partha rajasi

Pengertian yang mengetahui jalan yang salah dan benar,
apa yang harus dilakukan dan apa yang boleh dilakukan, wahai Partha (Arjuna),
pengertian itu bersifat rajasa

18-32
adharmam dharmam iti ya
manyate tamasavrta
sarvarthan viparitams ca
buddhih sa partha tamasi

Pengertian yang tertutupi oleh kegelapan, menganggap yang salah sebagai benar
dan melihat segala sesuatunya secara terbalik-balik (berlawanan dengan kebenaran), pengertian tersebut, wahai Partha (Arjuna), bersifat tamasa

18-33
dhrtya yaya dharayate
manah-pranendriya-kriyah
yogenavyabhicarinya
dhrtih sa partha sattviki

Kemantapan yang tak tergoyahkan
dan dengan melalui konsentrasi seseorang mengendalikan kegiatan pikiran, nafas vital dan indra-indra, wahai Partha (Arjuna),
kemantapan itu bersifat sattvika

18-34
yaya tu dharma-kamarthan
dhrtya dharayate ’rjuna
prasangena phalakanksi
dhrtih sa partha rajasi

Kemantapan yang memandang kewajiban dengan ketat,
kesenangan
dan kekayaan
dengan keinginan akan hasil dari padanya,wahai Partha (Arjuna),
kemantapan itu bersifat rajasika

18-35
yaya svapnam bhayam sokam
visadam madam eva ca
na vimuncati durmedha
dhrtih sa partha tamasi

Kemantapan yang membuat si bodoh tidak mau melepaskan kemalasan,
takut,
cemas,
tertekan
dan angkuh,
wahai Partha (Arjuna),
kemantapan ini bersifat tamasa

18-36
sukham tv idanim tri-vidham
shrinu me bharatarsabha
abhyasad ramate yatra
duhkhantam ca nigacchati

Dan sekarang dengarkanlah dari-Ku, wahai Bharatarsabha (Arjuna),
tiga macam kebahagiaan.
Dengan itu orang akan bergembira dan mencapai akhir dari kesedihan,
melalui pelaksanaan yang lama.

18-37
yat tad agre visam iva
pariname ’mrtopamam
tat sukham sattvikam proktam
atma-buddhi-prasada-jam

Kebahagiaan yang seperti racun pada awalnya dan seperti madu pada akhirnya,
yang muncul dari pemahaman yang jelas tentang sang Diri,
dikatakan kebahagiaan yagn bersifat sattvika

18-38
visayendriya-samyogad
yat tad agre ’mrtopamam
pariname visam iva
tat sukham rajasam smrtam

Kebahagiaan yang muncul dari hubungan indra-indra
dan obyeknya
dan yang seperti madu pada awalnya serta seperti racun pada akhirnya,
kebahagiaan tersebut bersifat rajasa

18-39
yad agre canubandhe ca
sukham mohanam atmanah
nidralasya-pramadottham
tat tamasam udahrtam

Kebahagiaan yang menipu sang roh,
baik pada awal maupun pada akhirnya
dan yang muncul dari kemalasan, tidur dan ketidakperdulian,
dinyatakan sebagai kebahagiaan tamasa

18-40
na tad asti prithivyam va
divi devesu va punah
sattvam prakriti-jair muktam
yad ebhih syat tribhir gunaih

Tak ada mahluk apapun,
baik di bumi,
apalagi diantara para dewa di surga,
yang bebas dari ketiga sifat (guna) yang berasal dari prakrti ini

18-41
brahmana-kshatriya-visam
shudranam ca parantapa
karmani pravibhaktani
svabhava-prabhavair gunaih

Di antara para Brahmana, para Ksatriya, Vaisya dan Sudra, wahai Paramtapa (Arjuna),
kegiatan kerjanya dibedakan sesuai dengan sifat-sifat (guna) yang berasal dari prakrti mereka.

18-42
samo damas tapah shaucam
ksantir arjavam eva ca
jnanam vijnanam astikyam
brahma-karma svabhava-jam

Ketenangan,
pengendalian diri,
tapah,
kemurnian,
kesabaran,
kejujuran,
kebijaksanaan,
pengetahuan
dan keyakinan dalam agama,
semuanya ini merupakan kewajiban dari para Brahmana yang berasal dari sifatnya sendiri.

18-43
sauryam tejo dhrtir daksyam
yuddhe capy apalayanam
danam ishvara-bhavas ca
kshatram karma svabhava-jam

Sifat kepahlawanan,
pemberani,
mantap,
kemahiran,
pantang mundur walaupun dalam pertempuran,
kedermawanan
dan kepemimpinan,
semua ini merupakan kewajiban dari golongan Ksatriya,
yang berasal dari sifatnya sendiri.

18-44
krsi-go-raksya-vanijyam
vaishya-karma svabhava-jam
paricaryatmakam karma
shudrasyapi svabhava-jam

Pertanian,
memelihara ternak
dan perdagangan
adalah kewajiban golongan Vaisya,
yang berasal dari sifatnya;
kegiatan kerja yang bercirikan pelayanan adalah kewajiban dari seorang Sudra yang berasal dari sifatnya.

18-45
sve sve karmany abhiratah
samsiddhim labhate narah
sva-karma-niratah siddhim
yatha vindati tac chrnu

Dengan mengabdikan kewajibannya sendiri manusia mencapai kesempurnaan.
Bagaimana seseorang yang mengabdikan pada kewajibannya sendiri mencapai kesempurnaan, dengarkanlah ini.

18-46
yatah pravrttir bhutanam
yena sarvam idam tatam
sva-karmana tam abhyarcya
siddhim vindati manavah

Dari siapa seluruh mahluk ini muncul dan oleh siapa semuanya ini diliputi;
dengan memuja-Nya melalui pelaksanaan kewajibannya sendiri,
manusia mencapai kesempurnaan.

18-47
sreyan sva-dharmo vigunah
para-dharmat sv-anusthitat
svabhava-niyatam karma
kurvan napnoti kilbisam

Lebih baik dharmanya sendiri walaupun tak sempurna melakukannya
dari pada dharma orang lain walaupun sempurna pelaksanaannya;
karena orang tak akan melakukan dosa bila melakukan dharmanya sendiri yang ditentukan oleh sifatnya sendiri.

18-48
saha-jam karma kaunteya
sa-dosam api na tyajet
sarvarambha hi dosena
dhumenagnir ivavrtah

Seseorang hendaknya jangan meninggalkan kegiatan kerja yang cocok dengan sifatnya sendiri, wahai putra Kunti (Arjuna),
walaupun itu mungkin tidak sempurna,
karena semua perbuatan diliputi oleh kekurangsempurnaan bagaikan api yang diselimuti asap.

18-49
asakta-buddhih sarvatra
jitatma vigata-sprhah
naishkarmya-siddhim paramam
sannyasenadhigacchati

Ia yang pengertiannya tak terikat dimanapun juga,
yang telah menaklukkan dirinya
dan yang keinginannya telah lenyap,
melalui pelaksanaan samnyasa ia sampai pada keadaan tertinggi yang melampaui segala kegiatan kerja.

18-50
siddhim prapto yatha brahma
tathapnoti nibodha me
samasenaiva kaunteya
nistha jnanasya ya para

Dengarkanlah dari-Ku secara ringkas, wahai putra Kunti (Arjuna),
bagaimana setelah mencapai kesempurnaan ia mencapai Brahman,
sebagai kesempurnaan kebijaksanaan tertinggi.

18-51, 18-52 & 18-53
buddhya vishuddhaya yukto
dhrtyatmanam niyamya ca
shabdadin visayams tyaktva
raga-dvesau vyudasya ca

vivikta-sevi laghv-asi
yata-vak-kaya-manasah
dhyana-yoga-paro nityam
vairagyam samupasritah

ahankaram balam darpam
kamam krodham parigraham
vimucya nirmamah santo
brahma-bhuyaya kalpate

Dilengkapi dengan pemahaman murni,
dengan mantap mengendalikan dirinya, berpaling dari suara dan obyek-obyek indra lain serta membuang rasa senang dan benci. Berdiam di tempat terpencil,
makan sekedarnya saja,
dengan mengendalikan kata-kata, badan dan pikiran
dan senantiasa tenggelam dalam meditasi dan konsentrasi
serta berlindung pada kedamaian hati.
Dan dengan mencampakkan rasa keakuan, kekuatan, keangkuhan, keinginan, kemarahan, kemilikan, tanpa keakuan dan ketenangan dalam pikiran,
ia layak untuk menjadi satu dengan Brahman.

18-54

brahma-bhutah prasannatma
na socati na kanksati
samah sarveshu bhutesu
mad-bhaktim labhate param

Setelah menjadi satu dengan Brahman
dan jiwanya telah tenang,
ia tak lagi berduka atau berkeinginan.
Dengan memandang semua mahluk sama ia mencapai pengabdian tertinggi pada-Ku.

18-55
bhaktya mam abhijanati
yavan yas casmi tattvatah
tato mam tattvato jnatva
visate tad-anantaram

Melalui pengabdian ia mengetahui Aku,
apa dan siapa Aku sebenarnya;
lalu setelah mengetahui Aku yang sebenarnya, ia kemudian masuk ke dalam-Ku

18-56
sarva-karmany api sada
kurvano mad-vyapasrayah
mat-prasadad avapnoti
sasvatam padam avyayam

Dengan melaksanakan segala kegiatan terus menerus
dan berlindung padaKu,
ia mendapatkan anugerah-Ku berupa tempat kediaman yang kekal dan abadi.

18-57
cetasa sarva-karmani
mayi sannyasya mat-parah
buddhi-yogam upasritya
mac-cittah satatam bhava

Dengan menyerahkan segala kegiatan kerja secara mental kepada-Ku,
menganggap Aku sebagai Yang Tertinggi
dan memasrahkan pada kemantapan dalam pemahaman,
pusatkanlah pikiranmu senantiasa kepada-Ku

18-58
mac-cittah sarva-durgani
mat-prasadat tarisyasi
atha cet tvam ahankaran
na srosyasi vinanksyasi

Dengan memusatkan pikiranmu pada-Ku, dengan anugerah-Ku engkau akan mengatasi segala kesulitan;
tetapi bila karena kedengkian diri,
engkau tidak mau mendengarkan Aku,
engkau akan hancur.

18-59
yad ahankaram asritya
na yotsya iti manyase
mithyaisa vyavasayas te
prakritis tvam niyoksyati

Bila dengan maksud memanjakan ahamkara engkau berpikir “Aku tak akan bertempur.” keputusanmu akan sia-sia saja;
karena prakrti akan memaksa dirimu.

18-60
svabhava-jena kaunteya
nibaddhah svena karmana
kartum necchasi yan mohat
karishyasy avaso ’pi tat

Yang engkau tak mau lakukan,
karena khayalan, wahai putra Kunti (Arjuna),
yang akan engkau lakukan walaupun bertentangan dengan kehendakmu, terbelenggu oleh kegiatanmu sendiri yang berasal dari sifatmu.

18-61
ishvarah sarva-bhutanam
hrd-dese ’rjuna tishthati
bhramayan sarva-bhutani
yantrarudhani mayaya

Tuhan bersemayam dalam hati segala mahluk, wahai Arjuana
yang menyebabkan mereka berputar oleh kekuasaan-Nya,
seakan-akan mereka terpasang pada sebuah mesin.

18-62
tam eva saranam gaccha
sarva-bhavena bharata
tat-prasadat param shantim
sthanam prapsyasi sasvatam

Berlindunglah kepada-Nya dengan segenap jiwa ragamu, wahai Bharata (Arjuna).
Dengan anugerah-Nya engkau akan mendapatkan kedamaian tertinggi dan tempat kediaman abadi.

18-63
iti te jnanam akhyatam
guhyad guhyataram maya
vimrsyaitad asesena
yathecchasi tatha kuru

Demikianlah kebijaksanaan yang lebih rahasia dari pada segala rahasia,
telah Aku ajarkan kepadamu.
Setelah mempertimbangkan semuanya ini sepenuhnya lakukanlah apa yang telah kamu pilih sendiri.

18-64
sarva-guhyatamam bhuyah
shrinu me paramam vacah
isto ’si me drdham iti
tato vaksyami te hitam

Dengarkanlah lagi ucapan suci-Ku,
yang paling rahasia dari segalanya.
Engkau sangat Ku sayangi,
sehingga Aku akan memberitahumu apa yang baik bagimu.

18-65
man-mana bhava mad-bhakto
mad-yaji mam namaskuru
mam evaishyasi satyam te
pratijane priyo ’si me

Pusatkanlah pikiranmu pada-Ku;
mengabdilah pada-Ku;
berkurban kepada-Ku;
bersujud dihadapan-Ku;
dengan demikian engkau akan sampai kepada-Ku.
Aku berjanji sungguh-sungguh,
karena engkau sangat Aku sayangi.

18-66
sarva-dharman parityajya
mam ekam saranam vraja
aham tvam sarva-papebhyo
mokshayisyami ma sucah

Lepaskanlah segala dharma,
datanglah kepada-Ku saja untuk berlindung satu-satunya.
Jangan bersedih,
karena Aku akan membebaskanmu dari segala kejahatan

18-67
idam te natapaskaya
nabhaktaya kadacana
na casusrusave vacyam
na ca mam yo ’bhyasuyati

Jangan pernah hal ini dibicarakan kepada orang yang tidak bertapa dalam kehidupannya atau pada seseorang yang tidak memiliki rasa pengabdian,
atau pada orang yang tidak berminat
atau yang menghina Aku.

18-68
ya idam paramam guhyam
mad-bhaktesv abhidhasyati
bhaktim mayi param kritva
mam evaishyaty asamsayah

Dia yang mengajarkan rahasia tertinggi ini kepada para penganut-Ku,
dengan memperlihatkan pengabdian tertinggi kepada-Ku,
tanpa keraguan lagi akan sampai kepada-Ku

18-69
na ca tasman manusyesu
kascin me priya-krttamah
bhavita na ca me tasmad
anyah priyataro bhuvi

Tak seorangpun di antara manusia yang melakukan pelayanan yang lebih tulus kepada-Ku
dan tak akan ada orang lain yang lebih Aku sayangi di dunia ini,
kecuali dia.

18-70
adhyesyate ca ya imam
dharmyam samvadam avayoh
jnana-yajnena tenaham
istah syam iti me matih

Dan,
ia yang mempelajari percakapan suci kita ini, Aku akan dipujanya dengan pengorbanan pengetahuan,
demikianlah pendapat-Ku

18-71
shraddhavan anasuyas ca
shrinuyad api yo narah
so ’pi muktah subhal lokan
prapnuyat punya-karmanam

Dan orang yang mendengarkannya dengan penuh keyakinan
dan tanpa mencela,
merekapun akan dibebaskan
dan akan mencapai kebahagiaan dunia kebajikan

18-72
kaccid etac chrutam partha
tvayaikagrena cetasa
kaccid ajnana-sammohah
pranastas te dhananjaya

Wahai Partha (Arjuna),
apakah engkau telah mendengar dengan pemikiran yang terpusatkan?
Wahai Dhananjaya (Arjuna),
apakah kekacauan pikiranmu yang disebabkan oleh kebodohan itu telah lenyap.

18-73
arjuna uvaca
nasto mohah smritir labdha
tvat-prasadan mayacyuta
sthito ’smi gata-sandehah
karisye vacanam tava

Arjuna berkata:
Musnahlah sudah kekacauan pikiranku
dan dengan anugerah-Mu aku telah menemukan kembali pemahamanku, wahai Acyuta (Krsna).
Aku mantap berdiri dengan keragu-raguanku yang telah lenyap.
Aku akan bertindak sesuai dengan ajaran-Mu

18-74
sanjaya uvaca
ity aham vasudevasya
parthasya ca mahatmanah
samvadam imam asrausam
adbhutam roma-harsanam

Sanjaya berkata:
Demikianlah telah kudengarkan percakapan yang luar biasa di antara Vasudeva (Krsna) dan Partha (Arjuna) sebagai roh mulia,
yang menyebabkan bulu romaku merinding

18-75
vyasa-prasadac chrutavan
etad guhyam aham param
yogam yogeshvarat krishnat
sakshat kathayatah svayam

Dengan anugerah bhagavan Vyasa,
aku dapat mendengar rahasia tertinggi,
berupa yoga yang diajarkan oleh Krsna sendiri sebagai Yogesvara (penguasa yoga) secara pribadi

18-76
rajan samsmrtya samsmrtya
samvadam imam adbhutam
keshavarjunayoh punyam
hrsyami ca muhur muhuh

Wahai sang Raja (Dhrtarastra),
bila hamba ingat kembali akan percakapan yang suci dan luar biasa ini,
antara Kesava (Krsna) dan Arjuna,
hamba gemetar dengan kegembiraan demi kegembiraan

18-77
tac ca samsmrtya samsmrtya
rupam aty-adbhutam hareh
vismayo me mahan rajan
hrsyami ca punah punah

Dan makin sering hamba ingat akan kehebatan wujud Hari (Krsna) yang luar biasa tersebut, sangat besar kekaguman hamba, wahai sang Raja (Dhrtarastra)
dan hamba gemetar dengan kebahagiaan demi kebahagiaan

18-78
yatra yogeshvarah krsno
yatra partho dhanur-dharah
tatra srir vijayo bhutir
dhruva nitir matir mama

Dimanapun ada Krsna, sebagai Yogesvara (Penguasa Yoga)
dan Partha (Arjuna), pahlawan pemanah,
aku yakin di sana ada keberuntungan, kemenangan, kesejahteraan dan kebajikan moral.

Disini berakhir bab ke-delapan belas dari Upanisad Bhagavadgita, ajaran tentang Brahmavidya dan Yogasastra, berupa percakapan antara Sri Krsna dan Arjuna, yang berjudul Samnyasa Yoga

Di sini kitab Bhagavadgita Upanishad, juga berakhir.

Kitab Bhagavad Gita Bab 17

Bab 17

Sraddhatraya Wibhaga Yoga
Tiga Macam Fenomena Keyakinan

17-1
arjuna uvaca
ye shastra-vidhim utsrjya
yajante shraddhayanvitah
tesham nistha tu ka krishna
sattvam aho rajas tamah

Arjuna bertanya:
Mereka yang melalaikan petunjuk kitab suci, mempersembahkan upacara kurban yang disertai dengan keyakinan,
bagaimanakah kedudukan mereka ini, wahai Krsna?
Apakah ini disebut sattva, rajas atau tamas?

17-2
sri-bhagavan uvaca
tri-vidha bhavati shraddha
dehinam sa svabhava-ja
sattviki rajasi caiva
tamasi ceti tam shrinu

Sri Bhagavan bersabda:
Keyakinan dari perwujudan roh ada tiga macam,
yang berasal dari sifat, sattvam, rajas dan tama.
Dengarlah tentang hal itu sekarang.

17-3
sattvanurupa sarvasya
shraddha bhavati bharata
shraddha-mayo ’yam purusho
yo yac-chraddhah sa eva sah

Keyakinan dari setiap pribadi, wahai Bharata (Arjuna),
tergantung pada sifatnya.
Manusia merupakan wujud dari keyakinannya; apapun keyakinannya itu,
sesungguhnya demikian ia adanya.

17-4
yajante sattvika devan
yaksha-rakshamsi rajasah
pretan bhuta-ganams canye
yajante tamasa janah

Orang-orang sattvika memuja para dewa,
yang bersifat rajasa memuja para raksasa dan para yaksa
dan yang lainnya, yaitu para tamasa memuja roh-roh orang mati dan roh-roh halus lainnya.

17-5 & 17-6
ashastra-vihitam ghoram
tapyante ye tapo janah
dambhahankara-samyuktah
kama-raga-balanvitah

karsayantah sarira-stham
bhuta-gramam acetasah
mam caivantah sarira-stham
tan viddhy asura-niscayan

Orang-orang sombong
dan angkuh
dan didorong oleh kekuatan nafsu dan keterikatan,
yang melakukan tapah kekerasan (dengan menyiksa badan),
yang tidak mengikuti aturan kitab suci.
Karena kebodohannya,
dengan menekan kelompok unsur dalam badan dan Aku yang juga bersemayam dalam badan;
ketahuilah bahwa tujuan mereka itu bersifat jahat.

17-7
aharas tv api sarvasya
tri-vidho bhavati priyah
yajnas tapas tatha danam
tesham bhedam imam shrinu

Bahkan makanan yang umum dimakan semua orang ada tiga jenisnya.
Demikian pula yajna, tapah dan dana (amal sedekah).
Dengarkanlah perbedaan ketiganya itu.

17-8
ayuh-sattva-balarogya-
sukha-priti-vivardhanah
rasyah snigdhah sthira hrdya
aharah sattvika-priyah

Makanan yang meningkatkan kehidupan, kekuatan,
vitalitas,
kesehatan,
kegembiraan dan kesenangan,
yang terasa lezat,
lembut,
menyegarkan dan enak,
disukai oleh para sattvika.

17-9
katv-amla-lavanaty-usna-
tiksna-ruksa-vidahinah
ahara rajasasyesta
duhkha-sokamaya-pradah

Makanan yang pahit,
masam,
asin,
pedas,
kebanyakan rempah-rempah (bumbu),
keras dan hangus,
yang menyebabkan penderitaan dan penyakit serta kesusahan,
disukai oleh kaum rajasa.

17-10
yata-yamam gata-rasam
puti paryusitam ca yat
ucchistam api camedhyam
bhojanam tamasa-priyam

Makanan yang basi,
kehilangan rasa,
busuk,
berbau,
bekas sisa dan tidak bersih
adalah yang disukai para tamasa.

17-11
aphalakanksibhir yajno
vidhi-disto ya ijyate
yastavyam eveti manah
samadhaya sa sattvikah

Yajna yang dipersembahkan sesuai dengan aturan kitab suci oleh mereka yang tidak mengharapkan ganjaran dan sangat percaya bahwa itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan,
merupakan yajna sattvika.

17-12
abhisandhaya tu phalam
dambhartham api caiva yat
ijyate bharata-srestha
tam yajnam viddhi rajasam

Tetapi,
yang dipersembahkan dengan mengharapkan ganjaran atau hanya untuk pamer saja, ketahuilah, wahai Bharatasrestha (Arjuna), bahwa yajna itu bersifat rajasa

17-13
vidhi-hinam asrstannam
mantra-hinam adaksinam
shraddha-virahitam yajnam
tamasam paricakshate

Yajna yang tidak mengikuti aturan,
di mana tak ada makanan yang dibagikan,
tak ada mantra diucapkan
dan tanpa pemberian amal sedekah
dan tanpa keyakinan,
dinyatakan sebagai yajna tamasa

17-14
deva-dvija-guru-prajna-
pujanam shaucam arjavam
brahmacaryam ahimsa ca
sariram tapa ucyate

Pemujaan para dewa,
para dwijati,
para guru dan orang-orang bijak,
kemurnian,
kejujuran,
pengendalian nafsu dan tanpa kekerasan;
ini dikatakan sebagai tapah badan.

17-15
anudvega-karam vakyam
satyam priya-hitam ca yat
svadhyayabhyasanam caiva
van-mayam tapa ucyate

Pengucapan kata-kata yang tidak menyebabkan sakit hati,
dapat dipercaya,
menyenangkan dan berguna
serta membaca Veda secara teratur,
ini dikatakan sebagai tapah dalam perkataan.

17-16
manah-prasadah saumyatvam
maunam atma-vinigrahah
bhava-samsuddhir ity etat
tapo manasam ucyate

Kedamaian pikiran,
sopan santun,
pendiam,
pengendalian diri dan kemurnian pikiran,
ini dikatakan tapah dari pikiran.

17-17
shraddhaya paraya taptam
tapas tat tri-vidham naraih
aphalakanksibhir yuktaih
sattvikam paricakshate

Tiga macam tapah yang dilakukan dengan penuh keyakinan orang-orang yang pikirannya seimbang tanpa mengharapkan balas jasa, disebut sattvika

17-18
satkara-mana-pujartham
tapo dambhena caiva yat
kriyate tad iha proktam
rajasam calam adhruvam

Tapah yang dilaksanakan agar mendapat kehormatan,
disegani dan dipuja-puja,
serta demi untuk pamer semata
dikatakan sebagai tapah rajasa,
yang tidak stabil dan tidak kekal

17-19
mudha-grahenatmano yat
pidaya kriyate tapah
parasyotsadanartham va
tat tamasam udahrtam

Tapah yang dilaksanakan dengan pemahaman bodoh dengan cara penyiksaan badan atau yang menyebabkan penderitaan orang lain, dikatakan sebagai tapah tamasa

17-20
datavyam iti yad danam
diyate ’nupakarine
dese kale ca patre ca
tad danam sattvikam smrtam

Amal sedekah yang diberikan kepada seseorang yang dianggap tak mungkin dapat membalasnya kembali,
dengan perasaan bahwa sudah merupakan kewajibannya untuk memberi
dan yang diberikan pada tempat, waktu dan orang yang layak menerimanya,
sedekah semacam itu dianggap sebagai sattvika.

17-21
yat tu pratyupakarartham
phalam uddisya va punah
diyate ca pariklistam
tad danam rajasam smrtam

Tetapi amal sedekah yang diberikan dengan harapan balasan kembali
atau dengan harapan perolehan masa depan atau dengan perasaan keberatan untuk memberikannya,
dipandang sebagai bersifat rajasa

17-22
adesa-kale yad danam
apatrebhyas ca diyate
asat-kritam avajnatam
tat tamasam udahrtam

Dan amal sedekah yang diberikan pada tempat, waktu yang salah serta terhadap orang yang tidak layak menerimanya,
tanpa aturan semestinya
atau dengan sikap menghina,
hal itu dinyatakan sebagai tamasa

17-23
om tat sad iti nirdeso
brahmanas tri-vidhah smrtah
brahmanas tena vedas ca
yajnas ca vihitah pura

Kata “Aum Tat Sat” ini dipandang sebagai lambang tiga aspek Brahman.
Dengan tiga kata ini telah ditetapkan tentang para Brahmana, kitab suci Veda dan yajna jaman dahulu.

17-24
tasmad om ity udahrtya
yajna-dana-tapah-kriyah
pravartante vidhanoktah
satatam brahma-vadinam

Oleh karena itu,
dengan pengucapan suku kata “aum”,
kegiatan yajna,
dana dan tapah seperti yang dinyatakan dalam kitab suci senantiasa dipergunakan oleh para penganut Brahman

17-25
tad ity anabhisandhaya
phalam yajna-tapah-kriyah
dana-kriyas ca vividhah
kriyante moksha-kanksibhih

Dan dengan pengucapan suku kata “tat”, kegiatan yajna, tapah dan berbagai kegiatan dana dilaksanakan oleh para pencari kebebasan,
tanpa tujuan untuk mendapat balas jasa.

17-26 & 17-27

sad-bhave sadhu-bhave ca
sad ity etat prayujyate
prasaste karmani tatha
sac-chabdah partha yujyate

yajne tapasi dane ca
sthitih sad iti cocyate
karma caiva tad-arthiyam
sad ity evabhidhiyate

Suku kata “sat” dipergunakan dalam pengertian realitas, kebajikan, wahai Partha (Arjuna);
dan kata “sat” juga dipergunakan dalam kegiatan yang patut dipuji.
Kemantapan dalam melakukan yajna, tapah, dana juga disebut “sat”
dan juga setiap kegiatan untuk tujuan itu disebut “sat”

17-28
ashraddhaya hutam dattam
tapas taptam kritam ca yat
asad ity ucyate partha
na ca tat pretya no iha

Persembahan dan dana apapun yang dilakukan,
tapah apapun yang dilaksanakan
dan yajna apapun yang dilakukan tanpa keyakinan, itu disebut “asat”, wahai Partha (Arjuna),
tak ada artinya baik disini maupun di dunia sana nantinya.

Di sini berakhir bab XVII, percakapan yang berjudul: Sraddhatraya Wibhaga Yoga

Minggu, 05 Maret 2017

Kitab Bhagavad Gita Bab 16

Bab XVI

Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga
Sifat Pikiran Yang Mulia dan Yang Jahat

16-1, 16-2 & 16-3
sri-bhagavan uvaca
abhayam sattva-samsuddhir
jnana-yoga-vyavasthitih
danam damas ca yajnas ca
svadhyayas tapa arjavam

ahimsa satyam akrodhas
tyagah shantir apaisunam
daya bhutesv aloluptvam
mardavam hrir acapalam

tejah ksama dhrtih shaucam
adroho nati-manita
bhavanti sampadam daivim
abhijatasya bharata

Sri Bhagavan bersabda:
Keberanian,
kemurnian pikiran,
bijaksana dalam membagi pengetahuan dan konsentrasi,
amal sedekah,
pengendalian diri
dan berkorban,
belajar kitab suci,
melakukan tapah
dan berbuat kejujuran.
Tanpa kekerasan,
kebenaran,
bebas dari kemarahan,
tanpa pamrih,
tenang,
benci dalam mencari kesalahan,
welas asih terhadap mahluk hidup,
bebas dari kelobaan,
sopan,
kerendahan hati
dan kemantapan.
Berani,
pemaaf,
teguh,
murni,
bebas dari kedengkian dan kesombongan, yang semuanya ini, wahai Bharata (Arjuna) merupakan anugerah pada mereka yang lahir dengan sifat-sifat dewata

16-4
dambho darpo ’bhimanas ca
krodhah parusyam eva ca
ajnanam cabhijatasya
partha sampadam asurim

Berlagak,
angkuh,
membanggakan diri,
marah
dan juga kasar
serta bodoh,
semuanya ini, wahai Partha (Arjuna) adalah sifat-sifat mereka yang lahir dengan kecenderungan raksasa.

16-5
daivi sampad vimokshaya
nibandhayasuri mata
ma sucah sampadam daivim
abhijato ’si pandava

Anugerah ilahi ini dikatakan untuk mencapai pelepasan
dan sifat-sifat raksasa akan menuju keterikatan.
Janganlah bersedih, wahai Pandava (Arjuna), engkau dilahirkan dengan sifat-sifat ilahi.

16-6
dvau bhuta-sargau loke ’smin
daiva asura eva ca
daivo vistarasah prokta
asuram partha me shrinu

Ada dua macam mahluk diciptakan di dunia ini, yaitu yang bersifat ilahi dan bersifat raksasa. Yang bersifat ilahi telah diuraikan secara panjang lebar.
Sekarang dengarkan, wahai Partha (Arjuna), tentang mahluk yang bersifat raksasa.

16-7
pravrttim ca nivrttim ca
jana na vidur asurah
na shaucam napi cacaro
na satyam tesu vidyate

Yang bersifat raksasa tidak mengetahui tentang jalan kegiatan kerja ataupun jalan penyangkalan kerja.
Juga kemurnian,
perilaku bajik
dan kebenaran tak ada pada mereka.

16-8
asatyam apratishtham te
jagad ahur anishvaram
aparaspara-sambhutam
kim anyat kama-haitukam

Mereka berkata bahwa dunia ini tidak nyata, tanpa dasar moral,
tanpa Tuhan,
tidak berada dalam susunan yang teratur,
yang disebabkan oleh keinginan saja.

16-9
etam drstim avastabhya
nastatmano ’lpa-buddhayah
prabhavanty ugra-karmanah
ksayaya jagato ’hitah

Dengan berpegang teguh pada pandangan ini, roh-roh sesat engan pemahaman lemah, dengan perbuatan kejam,
muncul sebagai musuh dunia menuju kehancurannya.

16-10
kamam asritya duspuram
dambha-mana-madanvitah
mohad grhitvasad-grahan
pravartante ’suci-vratah

Dengan menyerahkan dirinya pada keinginan yang tak pernah puas,
penuh dengan kemunafikan,
kebanggaan dan keangkuhan,
dengan pandangan yang salah karena khayalan,
mereka berbuat dengan melibatkan ketidakmurnian.

16-11 & 16-12
cintam aparimeyam ca
pralayantam upasritah
kamopabhoga-parama
etavad iti niscitah

asa-pasa-satair baddhah
kama-krodha-parayanah
ihante kama-bhogartham
anyayenartha-sancayan

Keranjingan dengan keinginan yang tak terhitung banyaknya yang hanya berhenti dengan adanya kematian,
memandang pemuasan keinginan sebagai tujuan tertinggi,
dengan memastikan bahwa inilah segala-galanya.
Dibelenggu oleh ratusan keinginan,
yang dipasrahkan pada nafsu dan kemarahan, mereka berusaha untuk menimbun kekayaan dengan cara yang tidak jujur,
demi untuk memenuhi keinginannya.

16-13, 16-14 & 16-15
idam adya maya labdham
imam prapsye manoratham
idam astidam api me
bhavisyati punar dhanam

asau maya hatah satrur
hanisye caparan api
isvaro ’ham aham bhogi
siddho ’ham balavan sukhi

adhyo ’bhijanavan asmi
ko ’nyo ’sti sadrso maya
yaksye dasyami modisya
ity ajnana-vimohitah

Hari ini telah aku dapatkan,
keinginan ini harus aku dapatkan;
ini adalah milikku dan kekayaan ini juga harus menjadi milikku nantinya.
Musuh ini telah aku bunuh dan yang lainnya juga akan kubunuh,
akulah penguasa,
akulah penikmat,
akulah yang berhasil,
yang perkasa dan yang berbahagia.
“Aku kaya raya dan berkelahiran mulia. Siapakah yang dapat menyamai aku?
Aku akan melakukan upacara yajna,
aku akan beramal sedekah,
aku akan bergembira,”
demikianlah mereka berkata dalam kedunguannya.

16-16
aneka-citta-vibhranta
moha-jala-samavrtah
prasaktah kama-bhogesu
patanti narake ’sucau

Terbingungkan oleh banyak pemikiran,
terlibat dalam jaring-jaring khayalan
dan terseret menuju kesenangan dari keinginan,
mereka jatuh ke dalam neraka yang menjijikkan.

16-17
atma-sambhavitah stabdha
dhana-mana-madanvitah
yajante nama-yajnais te
dambhenavidhi-purvakam

Dengan menyombongkan diri,
merasa diri benar,
yang penuh dengan kebanggaan
dan keangkuhan akan kekayaan,
mereka melaksanakan upacara yajna sebagai pulasan belaka tanpa mengindahkan aturan yang semestinya.

16-18
ahankaram balam darpam
kamam krodham ca samsritah
mam atma-para-dehesu
pradvisanto ’bhyasuyakah

Menyerah pada kesombongan diri,
kekuasaan
dan keangkuhan
dan juga nafsu
dan kemarahan,
orang-orang dengki ini membenci Aku yang bersemayam dalam badan mereka dan yang lainnya.

16-19
tan aham dvisatah kruran
samsaresu naradhaman
ksipamy ajasram asubhan
asurisv eva yonisu

Para pendendam yang kejam ini merupakan orang yang terburuk;
Aku akan campakkan mereka selamanya ke dalam kandungan para raksasa dalam siklus kelahiran dan kematian ini.

16-20
asurim yonim apanna
mudha janmani janmani
mam aprapyaiva kaunteya
tato yanty adhamam gatim

Terjerumus ke dalam kandungan para raksasa, mahluk-mahluk yang terbingungkan ini dari siklus kelahiran demi kelahiran,
tak akan mencapai Aku, wahai putra Kunti (Arjuna),
tetapi merosot menuju tempat yang paling rendah.

16-21
tri-vidham narakasyedam
dvaram nasanam atmanah
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet

Gerbang menuju neraka ini yang mengantar pada kemusnahan sang roh ada tiga jenis, yaitu: nafsu, kemarahan dan ketamakan.
Oleh karena itu,
seseorang harus melepaskan ketiganya ini.

16-22
etair vimuktah kaunteya
tamo-dvarais tribhir narah
acaraty atmanah sreyas
tato yati param gatim

Orang yang terbebas dari ketiga gerbang kegelapan ini, wahai putra Kunti (Arjuna), melakukan apa yang baik bagi jiwanya
dan kemudian mencapai keadaan tertinggi.

16-23
yah shastra-vidhim utsrjya
vartate kama-karatah
na sa siddhim avapnoti
na sukham na param gatim

Tetapi,
ia yang melalaikan (membuang) aturan kitab suci
dan bertindak sesuai dengan dorongan keinginannya semata,
ia tak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan ataupun tujuan tertinggi.

16-24
tasmac chastram pramanam te
karyakarya-vyavasthitau
jnatva shastra-vidhanoktam
karma kartum iharhasi

Oleh karena itu,
biarlah kitab suci menjadi otoritasmu untuk menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan.
Dengan mengetahui apa yang dinyatakan oleh aturan kitab suci tersebut,
engkau hendaknya melakukan kegiatan kerja di dunia ini.

Di sini berakhir Bab XVI, percakapan yang berjudul: DAIWASURA SAMPAD WIBHAGA YOGA

Kitab Bhagavad Gita Bab 15

Bab XV

Purusottama Yoga

15-1
sri-bhagavan uvaca
urdhva-mulam adhah-sakham
ashvattham prahur avyayam
chandamsi yasya parnani
yas tam veda sa veda-vit

Sri Bhagavan bersabda:
Mereka mengatakan tentang asvattham abadi sebagai memiliki akar di atas dan cabang-cabangnya di bawah.
Daun-daunnya adalah kitab-kitab Veda
dan ia yang mengetahui hal ini adalah yang mengetahui Veda.

15-2
adhas cordhvam prasrtas tasya sakha
guna-pravrddha visaya-pravalah
adhas ca mulany anusantatani
karmanubandhini manushya-loke

Cabangnya tumbuh ke bawah dan ke atas, yang dihidupi oleh guna (sifat),
dengan obyek-obyek indra sebagai tunas-tunasnya
dan ke bawah di dunia manusia menjulur akar-akar yang berakibat dalam kegiatan kerja.

15-3 & 15-4
na rupam asyeha tathopalabhyate
nanto na cadir na ca sampratishtha
ashvattham enam su-virudha-mulam
asanga-sastrena drdhena chittva

tatah padam tat parimargitavyam
yasmin gata na nivartanti bhuyah
tam eva cadyam purusham prapadye
yatah pravrttih prasrta purani

Bentuk sebenarnya tidak diketahui,
baik ujung maupun pangkalnya ataupun batangnya.
Setelah memotong pohon Asvattha yang berakar mantap ini dengan pedang kuat ketidakterikatan.
Maka, jalan yang membawa seseorang dan tak kembali lagi harus dicari dengan mengatakan, “Aku berlindung hanya pada Pribadi Utama, sebagai sumber kemunculan alam dunia yang kuno ini berasal”.

15-5
nirmana-moha jita-sanga-dosa
adhyatma-nitya vinivrtta-kamah
dvandvair vimuktah sukha-duhkha-samjnair
gacchanty amudhah padam avyayam tat

Mereka yang bebas dari kesombingan dan ilusi,
yang telah menaklukkan jahatnya keterikatan, yang segala keinginannya selalu untuk mengabdi pada Roh Tertinggi,
yang terbebas dari dualitas yang dikenal sebagai senang dan susah
dan tak terbingungkan,
akan pergi menuju keadaan yang kekal itu.

15-6
na tad bhasayate suryo
na sasanko na pavakah
yad gatva na nivartante
tad dhama paramam mama

Matahari tidak menyinarinya,
demikian juga bulan ataupun api.
Itulah tempat tinggal-Ku yang tertinggi
dan orang yang mencapainya tak akan kembali lagi.

15-7
mamaivamso jiva-loke
jiva-bhutah sanatanah
manah-sasthanindriyani
prakriti-sthani karshati

Suatu fragmen (cuplikan) dari diri-Ku sendiri, setelah menjadi roh yang hidup,
kekal di dunia kehidupan ini,
menarik indra-indra ke arah dirinya dan pikiran sebagai yang keenam,
yang berada dalam alam (prakrti)

15-8
sariram yad avapnoti
yac capy utkramatishvarah
grhitvaitani samyati
vayur gandhan ivasayat

Bila sang Jiva mengenakan badan jasmani dan ketika ia meninggalkannya,
ia juga membawa serta indra-indra dan pikiran dan pergi bagaikan angin yang membawa bau harum dari tempatnya.

15-9
srotram caksuh sparshanam ca
rasanam ghranam eva ca
adhisthaya manas cayam
visayan upasevate

Ia menikmati obyek indra dengan menggunakan telinga, mata, indra sentuhan, indra pengecap dan hidung, demikian juga pikiran.

15-10
utkramantam sthitam vapi
bhunjanam va gunanvitam
vimudha nanupasyanti
pasyanti jnana-caksusah

Ketika Ia berangkat atau tinggal ataupun mengalami,
dalam hubungannya dengan sifat-sifat (guna), mereka yang tersesat tak dapat melihat (roh penghuni badan),
tetapi mereka yang memiliki mata kebijaksanaan dapat melihatnya.

15-11
yatanto yoginas cainam
pasyanty atmany avasthitam
yatanto ’py akritatmano
nainam pasyanty acetasah

Para yogi juga berusaha mengetahui-Nya sebagai yang termantapkan pada sang Diri, tetapi mereka yang kurang cerdas,
yang jiwanya tak terdisiplinkan walaupun berusaha keras tak dapat menemukan-Nya.

15-12
yad aditya-gatam tejo
jagad bhasayate ’khilam
yac candramasi yac cagnau
tat tejo viddhi mamakam

Kecemerlangan matahari yang menyinari seluruh dunia,
yang ada pada bulan dan api,
ketahuilah bahwa itu adalah kecemerlangan-Ku

15-13
gam avisya ca bhutani
dharayamy aham ojasa
pusnami causadhih sarvah
somo bhutva rasatmakah

Dan dengan masuk ke dalam bumi,
Aku menopang segala mahluk dengan energi vital-Ku
dan dengan menjadi cairan sari soma (bulan), Aku menghidupi seluruh tanam-tanaman.

15-14
aham vaisvanaro bhutva
praninam deham asritah
pranapana-samayuktah
pacamy annam catur-vidham

Dengan menjadi api kehidupan dari badan mahluk hidup
dan bersatu dengan nafas ke atas dan ke bawah,
Aku mencernakan empat jenis makanan.

15-15
sarvasya caham hridi sannivisto
mattah smritir jnanam apohanam ca
vedais ca sarvair aham eva vedyo
vedanta-krd veda-vid eva caham

Dan Aku berdiam dalam hati semua mahluk; dari Aku lah datangnya ingatan dan pengetahuan,
demikian juga hilangnya.
Akulah sesungguhnya yang harus diketahui oleh seluruh kitab Veda.
Akulah sesungguhnya penyusun kitab Vedanta dan Aku juga yang mengetahui kitab-kitab Veda

15-16
dvav imau purushau loke
ksharas cakshara eva ca
ksharah sarvani bhutani
kuta-stho ’kshara ucyate

Ada dua macam orang di dunia ini,
yaitu yang dapat musnah dan yang abadi;
yang dapat musnah adalah seluruh eksistensi ini
dan yang tak berubah adalah yang abadi.

15-17
uttamah purushas tv anyah
paramatmety udahrtah
yo loka-trayam avisya
bibharty avyaya ishvarah

Tetapi,
lain dari pada ini,
Roh Tertinggi yang disebut sang Diri Tertinggi, sebagai Penguasa Abadi memasuki ketiga dunia ini
dan menghidupinya.

15-18
yasmat ksharam atito ’ham
aksharad api cottamah
ato ’smi loke vede ca
prathitah purushottamah

Karena Aku melampaui yang dapat musnah dan bahkan lebih tinggi dari yang tak termusnahkan,
Aku dimuliakan sebagai Pribadi Tertinggi,
baik di dunia ini maupun dalam kitab-kitab Veda

15-19
yo mam evam asammudho
janati purushottamam
sa sarva-vid bhajati mam
sarva-bhavena bharata

Ia yang tak terbingungkan,
mengetahui Aku sebagai Pribadi Tertinggi, yang mengetahui segalanya
dan memuja Aku dengan segenap jiwa raganya, wahai Bharata

15-20
iti guhyatamam shastram
idam uktam mayanagha
etad buddhva buddhiman syat
krita-krtyas ca bharata

Jadi,
ajaran yang sangat rahasia ini telah Aku ajarkan kepadamu, wahai Anagha (Arjuna). Dengan mengetahuinya,
seseorang akan menjadi bijaksana
dan dapat melaksanakan segala kewajibannya, wahai Bharata (Arjuna)

Disini berakhir Bab XV, percakapan yang berjudul: PURUSOTTAMA YOGA

Kitab Bhagavad Gita Bab 14

Bab XIV

Guna Traya Wibhaga Yoga

14-1
sri-bhagavan uvaca
param bhuyah pravaksyami
jnananam jnanam uttamam
yaj jnatva munayah sarve
param siddhim ito gatah

Sri Bhagavan bersabda:
Kembali Aku katakan bahwa kebijaksanaan tertinggi adalah yang terbaik dari seluruh kebijaksanaan
dan dengan mengetahuinya semua orang bijak telah terbebas dari dunia ini menuju kesempurnaan tertinggi.

14-2
idam jnanam upasritya
mama sadharmyam agatah
sarge ’pi nopajayante
pralaye na vyathanti ca

Setelah berlindung pada kebijaksanaan ini dan menjadi bersifat seperti Aku,
mereka tak akan lahir lagi pada waktu penciptaan maupun terusik pada saat penyerapan kembali.

14-3
mama yonir mahad brahma
tasmin garbham dadhamy aham
sambhavah sarva-bhutanam
tato bhavati bharata

Brahma agung (prakrti) adalah Kandungan-Ku; disanalah Akun menanamkan benih
dan dari sana lah munculnya mahluk-mahluk ini, wahai Bharata (Arjuna)

14-4
sarva-yonisu kaunteya
murtayah sambhavanti yah
tasam brahma mahad yonir
aham bija-pradah pita

Apapun wujudnya semuanya lahir dari kandungan, wahai putra Kunti (Arjuna),
brahma yang agung adalah kandungannya
dan Aku adalah Bapak yang menanamkan benihnya.

14-5
sattvam rajas tama iti
gunah prakriti-sambhavah
nibadhnanti maha-baho
dehe dehinam avyayam

Tiga sifat (guna),
sattvam (kebaikan), rajas (bernafsu) dan tamas (kelembamam)
berasal dari alam (prakrti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabahu (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam dalam badan.

14-6
tatra sattvam nirmalatvat
prakasakam anamayam
sukha-sangena badhnati
jnana-sangena canagha

Dari padanya,
sifat sattvam (kebaikan) menjadi murni, menyebabkan pencerahan dan kesehatan, wahai Anagha (Arjuna),
dengan keterikatan pada kebahagiaan dan pengetahuan.

14-7
rajo ragatmakam viddhi
trsna-sanga-samudbhavam
tan nibadhnati kaunteya
karma-sangena dehinam

Ketahuilah bahwa sifat rajas (nafsu) adalah sifat ketertarikan yang muncul dari kerinduan dan keterikatan.
Ia membelenggu dengan sangat eratnya, wahai putra Kunti (Arjuna),
penghuni badan dengan keterikatan untuk melakukan kegiatan kerja.

14-8
tamas tv ajnana-jam viddhi
mohanam sarva-dehinam
pramadalasya-nidrabhis
tan nibadhnati bharata

Tetapi,
ketahuilah bahwa sifat tamas itu berasal dari kebodohan
dan menipu seluruh keberadaan berwujud ini, wahai Bharata (Arjuna),
dengan mengembangkan sifat-sifat tak perduli, malas dan tidur.

14-9
sattvam sukhe sanjayati
rajah karmani bharata
jnanam avrtya tu tamah
pramade sanjayaty uta

Sifat sattva (kebaikan) mengikat seseorang pada kebahagiaan,
sifat rajas (nafsu) dengan kegiatan kerja, wahai Bharata (Arjuna),
tetapi kebodohan (tamas), menyelubungi kebijaksanaan dan terikat untuk bermalas-malasan (tak peduli).

14-10
rajas tamas cabhibhuya
sattvam bhavati bharata
rajah sattvam tamas caiva
tamah sattvam rajas tatha

Sifat sattvam (kebaikan) meningkat, mengatasi sifat rajas dan tamas, wahai Bharata (Arjuna). Sifat rajas meningkat, menguasai sifat sattva dan tamas,
demikian pula sifat tamas meningkat, mengatasi sifat sattva dan rajas.

14-11
sarva-dvaresu dehe ’smin
prakasa upajayate
jnanam yada tada vidyad
vivrddham sattvam ity uta

Apabila sinar pengetahuan menembus seluruh gerbang badan,
maka dapat diketahui bahwa sifat sattvam bertambah kuasa

14-12
lobhah pravrttir arambhah
karmanam asamah sprha
rajasy etani jayante
vivrddhe bharatarsabha

Serakah,
kegiatan kerja,
melakukan pekerjaan,
gelisah
dan ketagihan,
semuanya ini meningkat, wahai Bharatarsabha (Arjuna),
manakala sifat rajas tambah berkuasa.

14-13
aprakaso ’pravrttis ca
pramado moha eva ca
tamasy etani jayante
vivrddhe kuru-nandana

Kegelapan,
tanpa kegiatan,
tidak perduli
dan hanya kebingungan -
semuanya ini muncul, wahai Kurunandana (Arjuna),
manakala sifat tamas bertambah besar.

14-14
yada sattve pravrddhe tu
pralayam yati deha-bhrt
tadottama-vidam lokan
amalan pratipadyate

Apabila sifat sattvam (kebaikan) meningkat dan roh penghuni badan menemui masa peleburan,
maka ia mencapai dunia murni dari mereka yang mengetahui Yang Tertinggi (Tuhan)

14-15
rajasi pralayam gatva
karma-sangisu jayate
tatha pralinas tamasi
mudha-yonisu jayate

Ketika sifat rajas meningkat saat bertemu dengan saat kematian,
ia akan lahir di antara mereka yang terikat dengan kegiatan kerja;
dan apabila ia mati di saat sifat tamas yang mendominasi,
ia akan lahir dalam kandungan yang membingungkan.

14-16
karmanah sukritasyahuh
sattvikam nirmalam phalam
rajasas tu phalam duhkham
ajnanam tamasah phalam

Hasil dari kegiatan baik dikatakan bersifat ‘kebaikan’;
sementara hasil dari sifat rajas adalah penderitaan
dan hasil dari sifat tamas adalah kebodohan

14-17
sattvat sanjayate jnanam
rajaso lobha eva ca
pramada-mohau tamaso
bhavato ’jnanam eva ca

Dari sifat tattva timbul pengetahuan
dan dari sifat rajas keserakahan;
dari sifat tamas muncul ketidakperdulian, kesalahan dan juga kebodohan

14-18
urdhvam gacchanti sattva-stha
madhye tisthanti rajasah
jaghanya-guna-vrtti-stha
adho gacchanti tamasah

Mereka yang mantap dalam sifat sattva akan meningkat ke wilayah yang lebih tinggi;
yang bersifat rajas beraa di wilayah tengah;
dan yang bersifat tamas yang tenggelam dalam masalah yang lebih rendah,
akan tenggelam makin ke bawah.

14-19
nanyam gunebhyah kartaram
yada drastanupasyati
gunebhyas ca param vetti
mad-bhavam so ’dhigacchati

Bila si pengamat menyadari bahwa tak ada pelaku lain selain dari pada sifat-sifat
dan juga mengetahui yang melampaui sifat-sifat itu,
ia mencapai keberadaan-Ku.

14-20
gunan etan atitya trin
dehi deha-samudbhavan
janma-mrityu-jara-duhkhair
vimukto ’mrtam asnute

Bila roh penghuni badan dapat mengatasi ketiga guna yang berasal dari badan,
ia terbebas dari kelahiran, kematian, usia tua, dan penderitaan serta mencapai kehidupan abadi.

14-21
arjuna uvaca
kair lingais trin gunan etan
atito bhavati prabho
kim acarah katham caitams
trin gunan ativartate

Arjuna bertanya:
Apakah tanda-tanda dari mereka yang telah mengatasi ketiga sifat (guna) tersebut, wahai Prabhu (Krsna)?
Bagaimanakah cara hidup mereka?
Bagaimana caranya mereka dapat mengatasi ketiga sifat itu?

14-22, 14-23, 14-24 & 14-25
sri-bhagavan uvaca
prakasam ca pravrttim ca
moham eva ca pandava
na dvesti sampravrttani
na nivrttani kanksati

udasina-vad asino
gunair yo na vicalyate
guna vartanta ity evam
yo ’vatishthati nengate

sama-duhkha-sukhah sva-sthah
sama-lostasma-kancanah
tulya-priyapriyo dhiras
tulya-nindatma-samstutih

manapamanayos tulyas
tulyo mitrari-pakshayoh
sarvarambha-parityagi
gunatitah sa ucyate

Sri Bhagavan bersabda:
Dia yang tidak membenci sekali pencerahan, kegiatan dan khayalan, wahai Pandava (Arjuna),
ketika mereka meningkat ataupun tidak merindukannya manakala mereka berhenti.
Ia yang duduk seperti orang yang tak perduli, tak terusik oleh sifat-sifat itu,
yang tetap terpisah tanpa tergoyahkan, ketahuilah bahwa itu hanyalah kegiatan dari guna (sifat) tersebut.
Ia yang memandang sama terhadap suka maupun duka,
yang teguh pendiriannya,
yang memandang sama terhadap segumpal tanah, sebongkah batu dan sekeping emas, yang tetap tabah di tengah-tengah hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan,
yang pikirannya mantap,
yang memandang sama pujian maupun cacian. Ia yang tetap sama dalam kehormatan maupun kehinaan
dan bersikap sama kepada kawan maupun lawan,
serta telah melepaskan segala inisiatif kegiatan kerja,
dikatakan telah melampaui sifat-sifat (guna)

14-26
mam ca yo ’vyabhicarena
bhakti-yogena sevate
sa gunan samatityaitan
brahma-bhuyaya kalpate

Ia yang melayani-Ku dengan pengabdian yang tak kunjung padam,
mengatasi ketiga guna,
ia juga layak mencapai Brahman.

14-27
brahmano hi pratishthaham
amritasyavyayasya ca
sasvatasya ca dharmasya
sukhasyaikantikasya ca

Karena Aku adalah kedudukan Brahman,
Yang Abadi,
Kekal,
dharma abadi
dan kebahagiaan mutlak.

Disini berakhir Bab XIV, percakapan yang berjudul: Guna Traya Wibhaga Yoga

Jumat, 03 Maret 2017

Kitab Bhagavad Gita Bab 13

Bab XIII

Ksetra Ksetrajna Wibhaga Yoga

13-1 & 13-2
arjuna uvaca
prakritim purusham caiva
kshetram kshetra-jnam eva ca
etad veditum icchami
jnanam jneyam ca keshava

sri-bhagavan uvaca
idam sariram kaunteya
kshetram ity abhidhiyate
etad yo vetti tam prahuh
kshetra-jna iti tad-vidah

Arjuna berkata:
Prakrti dan Purusa,
ksetra dan ksetrajna,
jnana dan jneya ini Aku ingin mengetahuinya, wahai Kesava (Krsna).

Sri Bhagavan bersabda:
Badan ini disebut sebagai Ksetra, wahai putra Kunti (Arjuna)
dan yang mengetahuinya disebut Ksetrajna oleh mereka yang mengetahui hal ini.

13-3
kshetra-jnam capi mam viddhi
sarva-kshetresu bharata
kshetra-kshetrajnayor jnanam
yat taj jnanam matam mama

Ketahuilah bahwa Aku adalah Yang Mengetahui (Ksetrajna) lapangan (ksetra) pada segala lapangan, wahai Bharata (Arjuna). Pengetahuan tentang lapangan (Ksetra) dan yang mengetahuinya (Ksetrajna).
Aku anggap sebagai pengetahuan sejati

13-4
tat kshetram yac ca yadrk ca
yad-vikari yatas ca yat
sa ca yo yat-prabhavas ca
tat samasena me shrinu

Dengarkanlah secara singkat dari-Ku apa yang disebut lapangan (Ksetra),
bagaimana sifat dan perubahan-perubahannya, dari mana asalnya;
dan apa Ksetrajna itu
serta apa kekuatannya.

13-5
rsibhir bahudha gitam
chandobhir vividhaih prithak
brahma-sutra-padais caiva
hetumadbhir viniscitaih

Ini telah dikidungkan oleh para rsi dalam banyak cara dan saling berbeda,
dalam berbagai macam irama
dan juga dalam penalaran yang baik serta dalam pengungkapan konklusif dari aporisma tentang Yang Mutlak (brahmasutra).

13-6 & 13-7
maha-bhutany ahankaro
buddhir avyaktam eva ca
indriyani dasaikam ca
panca cendriya-gocarah

iccha dvesah sukham duhkham
sanghatas cetana dhrtih
etat kshetram samasena
sa-vikaram udahrtam

Unsur-unsur dasar utama,
keakuan,
kecerdasan
dan juga yang tak termanifestasikan,
sepuluh indra dan pikiran serta lima obyek indra.
Keinginan dan kebencian,
kesenangan dan kesedihan,
kumpulannya,
kecerdasan dan kemantapan,
sebagai Ksetra telah diuraikan secara singkat bersama-sama dengan modifikasinya.

13-8
amanitvam adambhitvam
ahimsa ksantir arjavam
acaryopasanam shaucam
sthairyam atma-vinigrahah

(9)

indriyarthesu vairagyam
anahankara eva ca
janma-mrityu-jara-vyadhi-
duhkha-dosanudarshanam

(10)

ashaktir anabhisvangah
putra-dara-grhadisu
nityam ca sama-cittatvam
istanistopapattisu

(11)

mayi cananya-yogena
bhaktir avyabhicarini
vivikta-desa-sevitvam
aratir jana-samsadi

(12)

adhyatma-jnana-nityatvam
tattva-jnanartha-darshanam
etaj jnanam iti proktam
ajnanam yad ato ’nyatha

Kerendahan hati,
kejujuran,
tanpa kekerasan,
sabar,
keadilan,
pelayanan kepada guru,
kemurnian badan dan pikiran,
keteguhan hati dan pengendalian diri.
Tak perduli pada obyek-obyek indriawi, menjauhkan diri dari bayangan jahatnya kematian,
usia tua,
kesakitan dan penderitaan.
Tanpa keterikatan,
bebas dari ketergantungan pada anak, istri, rumah dan sejenisnya,
dan tetap berpikir seimbang terhadap peristiwa yang disenangi maupun yang tak disenangi. Pengabdian yang tak tergoyahkan kepada-Ku dengan pendisiplinan sepenuh hati,
berlindung pada tempat yang terpencil,
tidak menyukai kerumunan banyak orang. Secara terus menerus dalam pengetahuan tentang sang Diri,
penglihatan batin tentang akhir dari pengetahuan Kebenaran -
semuanya ini dinyatakan sebagai pengetahuan sejati
dan semua yang lainnya sebagai bukan pengetahuan.

13-13
jneyam yat tat pravaksyami
yaj jnatvamritam asnute
anadi mat-param brahma
na sat tan nasad ucyate

Aku akan menguraikan tentang apa yang harus diketahui
dan dengan mengetahuinya, kehidupan abadi dapat diperoleh.
Itulah Brahman Tertinggi
yang tanpa awal dan yang dikatakan bukan keberadaan maupun keberadaan (sat asat)

13-14
sarvatah pani-padam tat
sarvato ’ksi-siro-mukham
sarvatah shrutimal loke
sarvam avrtya tishthati

Dengan tangan dan kaki dimana-mana,
dengan mata, kepala dan muka pada semua sisi,
dengan telinga pada segala sisi.
Dia bersemayam di alam semesta ini,
meliputi segalanya.

13-15
sarvendriya-gunabhasam
sarvendriya-vivarjitam
asaktam sarva-bhrc caiva
nirgunam guna-bhoktr ca

Dia tampaknya memiliki sifat-sifat seluruh indra namun tanpa indra sama sekali,
tak terikat namun mendukung semuanya, bebas dari guna (sifat dari prakrti) namun menikmatinya.

13-16
bahir antas ca bhutanam
acaram caram eva ca
suksmatvat tad avijneyam
dura-stham cantike ca tat

Ia ada di dalam dan di luar segala mahluk.
Ia tak bergerak dan juga bergerak.
Ia terlalu halus untuk dapat diketahui.
Ia sangat jauh namun juga sangat dekat.

13-17
avibhaktam ca bhutesu
vibhaktam iva ca sthitam
bhuta-bhartr ca taj jneyam
grasisnu prabhavishnu ca

Ia tak dapat dibagi-bagi namun juga tampaknya terbagi diantara mahluk-mahluk.
Ia harus diketahui sebagai penopang mahluk hidup,
memusnahkannya dan menciptakannya kembali.

13-18
jyotisam api taj jyotis
tamasah param ucyate
jnanam jneyam jnana-gamyam
hridi sarvasya visthitam

Dia adalah Sinar dari segala sinar,
yang dikatakan mengatasi kegelapan;
obyek pengetahuan dan tujuan dari pengetahuan;
Dia bersemayam dalam hati semua mahluk.

13-19
iti kshetram tatha jnanam
jneyam coktam samasatah
mad-bhakta etad vijnaya
mad-bhavayopapadyate

Dengan demikian,
ksetra,
pengetahuan (jnana)
dan obyek pengetahuan (jneya) telah diuraikan secara singkat.
Para bhakta yang memahaminya layak untuk sampai ke tempat-Ku

13-20
prakritim purusham caiva
viddhy anadi ubhav api
vikarams ca gunams caiva
viddhi prakriti-sambhavan

Ketahuilah bahwa prakrti (alam)
dan purusa (roh)
keduanya tanpa awal;
dan ketahui pulalah bahwa wujud dan sifat berasal dari prakrti (alam) tersebut.

13-21
karya-karana-kartrtve
hetuh prakritir ucyate
purushah sukha-duhkhanam
bhoktrtve hetur ucyate

Alam dikatakan sebagai penyebab dari akibat, alat dan pelaku
dan roh dikatakan sebagai penyebab,
dalam kaitannya dengan pengalaman kesenangan dan kesedihan.

13-22
purushah prakriti-stho hi
bhunkte prakriti-jan gunan
karanam guna-sango ’sya
sad-asad-yoni-janmasu

Roh di alam ini menyukai sifat-sifat yang berasal dari alam.
Keterikatan terhadap sifat alam (prakrti) itu menyebabkan kelahirannya dalam kandungan yang baik maupun yang jahat.

13-23
upadrastanumanta ca
bharta bhokta maheshvarah
paramatmeti capy ukto
dehe ’smin purushah parah

Roh Tertinggi dalam badan dikatakan sebagai Saksi,
Pengawas,
Penopang,
Yang Mengalami,
Penguasa Tertinggi
dan sang Diri Tertinggi.

13-24
ya evam vetti purusham
prakritim ca gunaih saha
sarvatha vartamano ’pi
na sa bhuyo ’bhijayate

Ia yang mengetahui purusa (sang roh)
dan prakrti (alam),
bersama-sama dengan sifat (guna),
walaupun ia berbuat dengan cara apapun,
ia tak akan lahir kembali.

13-25
dhyanenatmani pasyanti
kecid atmanam atmana
anye sankhyena yogena
karma-yogena capare

Dengan melakukan meditasi beberapa orang dapat mengetahui sang Diri dalam diri oleh diri-nya;
yang lainnya dengan jalan pengetahuan namun yang lainnya lagi melalui jalan kegiatan kerja.

13-26
anye tv evam ajanantah
srutvanyebhya upasate
te ’pi catitaranty eva
mrityum shruti-parayanah

Namun yang lainnya,
karena ketidaktahuannya (tentang yoga ini), mendengar dari orang lain dan memuja;
dan mereka juga dapat melewati kematian dengan pengabdian mereka terhadap apa yang mereka dengar.

13-27
yavat sanjayate kincit
sattvam sthavara-jangamam
kshetra-kshetrajna-samyogat
tad viddhi bharatarsabha

Mahluk apapun yang lahir,
baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, wahai Bharatarsabha (Arjuna),
ketahuilah bahwa itu berasal dari gabungan ksetra dan ksetrajna.

13-28
samam sarveshu bhutesu
tisthantam paramesvaram
vinasyatsv avinasyantam
yah pasyati sa pasyati

Ia yang melihat Penguasa Tertinggi merata bersemayam pada semua mahluk,
yang tak akan pernah musnah walaupun mereka musnah,
sesungguhnya ia melihat.

13-29
samam pasyan hi sarvatra
samavasthitam ishvaram
na hinasty atmanatmanam
tato yati param gatim

Karena,
ketika ia melihat kehadiran Tuhan,
merata dimana-mana,
ia tak akan menyakiti Dirinya yang sejati dengan dirinya
dan kemudian ia mencapai tujuan tertinggi.

13-30
prakrityaiva ca karmani
kriyamanani sarvasah
yah pasyati tathatmanam
akartaram sa pasyati

Ia yang melihat bahwa segala kegiatan kerja hanya dilakukan oleh prakrti
dan dengan demikian sang diri bukanlah si pelaku,
sesungguhnya ialah yang melihat (Kebenaran).

13-31
yada bhuta-prithag-bhavam
eka-stham anupasyati
tata eva ca vistaram
brahma sampadyate tada

Bila ia melihat bahwa berbagai keadaan mahluk-mahluk terpusatkan pada Yang Tunggal
dan hanya dari sanalah ia muncul,
maka ia mencapai Brahman.

13-32
anaditvan nirgunatvat
paramatmayam avyayah
sarira-stho ’pi kaunteya
na karoti na lipyate

Karena,
sang Diri Tertinggi ini kekal,
tanpa awal,
tanpa sifat, wahai putra Kunti (Arjuna), sehingga walaupun Ia bersemayam dalam badan,
Ia tak berbuat maupun ternoda.

13-33
yatha sarva-gatam sauksmyad
akasam nopalipyate
sarvatravasthito dehe
tathatma nopalipyate

Seperti ruang (ether) yang meliputi segalanya itu tak ternodai dengan alasan karena kehalusannya,
demikian juga sang Diri yang hadir pada setiap orang juga tidak menderita kecemaran (noda).

13-34
yatha prakasayaty ekah
krtsnam lokam imam ravih
kshetram ksetri tatha krtsnam
prakasayati bharata

Seperti satu matahari yang menyinari seluruh dunia ini,
demikian pula Penguasa badan (ksetrajna) menyinari segenap badan ini, wahai Bharata (Arjuna).

13-35
kshetra-kshetrajnayor evam
antaram jnana-caksusa
bhuta-prakriti-moksham ca
ye vidur yanti te param

Mereka yang melihat ini dengan mata kebijaksanaan,
antara ksetra dan ksetrajna,
serta pembebasan mahluk-mahluk dari prakrti, mereka mencapai Yang Tertinggi.

Disini berakhir Bab XIII, percakapan yang berjudul Ksetra Ksetrajna Wibhaga Yoga

Kitab Bhagavad Gita Bab 12

Bab XII

Bhakti Yoga

12-1
arjuna uvaca
evam satata-yukta ye
bhaktas tvam paryupasate
ye capy aksharam avyaktam
tesham ke yoga-vittamah

Arjuna berkata:
Para bhakta yang senantiasa bersungguh-sungguh memuja-Mu
dan mereka yang memuja Yang Abadi
dan Yang Tak Berwujud,
yang manakah dari keduanya ini yang memiliki pengetahuan yoga yang lebih besar.

12-2
sri-bhagavan uvaca
mayy avesya mano ye mam
nitya-yukta upasate
shraddhaya parayopetas
te me yuktatama matah

Sri Bhagavan bersabda:
Mereka yang memusatkan pikirannya pada-Ku dengan menyembah-Ku
dan senantiasa bersungguh-sungguh
serta memiliki keyakinan yang sempurna, merekalah yang Aku anggap paling sempurna dalam yoga.

12-3 & 12-4
ye tv aksharam anirdesyam
avyaktam paryupasate
sarvatra-gam acintyam ca
kuta-stham acalam dhruvam

sanniyamyendriya-gramam
sarvatra sama-buddhayah
te prapnuvanti mam eva
sarva-bhuta-hite ratah

Tetapi mereka yang memuja Yang Abadi,
Yang Tak Terdefinisikan,
Yang Tak berwujud,
Yang Maha ada,
Yang Tak terpikirkan,
Yang Tak berubah
dan Yang Tak Tergerakkan,
Yang Konstan.
Dengan menahan semua indra,
senantiasa mantap dalam segala kondisi, senang dalam mensehjaterakan segala mahluk,
mereka sesungguhnya datang kepada-Ku

12-5
kleso ’dhikataras tesam
avyaktasakta-cetasam
avyakta hi gatir duhkham
dehavadbhir avapyate

Kesulitan dari mereka yang pikirannya terpusat pada Yang Tak berwujud lebih besar,
karena tujuan dari Yang Tak Berwujud itu sulit dicapai oleh mahluk-mahluk yang berwujud.

12-6 & 12-7
ye tu sarvani karmani
mayi sannyasya mat-parah
ananyenaiva yogena
mam dhyayanta upasate

tesam aham samuddharta
mrityu-samsara-sagarat
bhavami na cirat partha
mayy avesita-cetasam

Tetapi mereka yang menyerahkan segala kegiatannya pada-Ku,
bersungguh-sungguh kepada-Ku,
memuja dan bermeditasi kepada-Ku,
dengan pengabdian yang tak tergoyahkan. Yang pikirannya tertuju pada-Ku,
dengan langsung dan segera Aku entaskan mereka dari lautan samsara (belenggu kelahiran dan kematian), wahai Partha (Arjuna).

12-8
mayy eva mana adhatsva
mayi buddhim nivesaya
nivasisyasi mayy eva
ata urdhvam na samsayah

Kepada-Ku sajalah,
pusatkan pikiranmu dan biarkanlah pemahamanmu berada di dalam-Ku.
Hanya di dalam-Ku sajalah nantinya kamu akan hidup.
Tentang hal ini tak perlu diragukan lagi.

12-9
atha cittam samadhatum
na saknosi mayi sthiram
abhyasa-yogena tato
mam icchaptum dhananjaya

Namun,
apabila engkau tak mampu untuk memusatkan pikiranmu secara mantap pada-Ku,
maka usahakanlah untuk mencapai-Ku dengan melaksanakan konsentrasi, wahai Dhananjaya

12-10
abhyase ’py asamartho ’si
mat-karma-paramo bhava
mad-artham api karmani
kurvan siddhim avapsyasi

Bila engkau juga tak mampu melakukan ini, maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang melayani diri-Ku;
bahkan dengan melakukan kegiatan demi untuk-Ku saja,
engkau akan mencapai kesempurnaan.

12-11
athaitad apy asakto ’si
kartum mad-yogam asritah
sarva-karma-phala-tyagam
tatah kuru yatatmavan

Bila yang inipun tak dapat kamu lakukan,
maka berlindunglah dalam kegiatanKu yang terdisiplinkan,
lepaskan hasil dari segala kegiatan kerja dengan memasrahkan dirimu.

12-12
sreyo hi jnanam abhyasaj
jnanad dhyanam visisyate
dhyanat karma-phala-tyagas
tyagac chantir anantaram

Sungguh lebih baik pengetahuan dari pada pelaksanaan konsentrasi;
yang lebih baik dari pengetahuan adalah meditasi;
lebih baik dari meditasi adalah pelepasan terhadap hasil dari kegiatan;
karena dengan penyangkalan akan segera diikuti oleh kedamaian.

12-13 & 12-14
advesta sarva-bhutanam
maitrah karuna eva ca
nirmamo nirahankarah
sama-duhkha-sukhah ksami

santustah satatam yogi
yatatma drdha-niscayah
mayy arpita-mano-buddhir
yo mad-bhaktah sa me priyah

Dia yang tidak membenci semua mahluk,
yang senantiasa bersikap ramah dan bersahabat,
bebas dari rasa keakuan dan kemilikan serta pemaaf,
berkeadaan sama dalam kesedihan maupun kesenangan.
Yogi yang senantiasa puas,
dengan sang diri yang terkendalikan,
tak goyah oleh masalah apapun,
dengan pikiran dan pemahaman yang diserahkan kepada-Ku,
ia adalah bhakta-Ku yang Ku-kasihi.

12-15
yasman nodvijate loko
lokan nodvijate ca yah
harsamarsa-bhayodvegair
mukto yah sa ca me priyah

Ia yang tidak mengganggu dunia dan tak terganggu oleh dunia,
yang bebas dari kesenangan dan kemarahan, ketakutan dan kecemasan,
ia juga Aku kasihi.

12-16
anapeksah sucir daksha
udasino gata-vyathah
sarvarambha-parityagi
yo mad-bhaktah sa me priyah

Dia yang tidak memiliki pengharapan,
mahir dalam kegiatan kerja,
tak perduli dan tak terusik,
yang telah melepaskan segala inisiatif dalam kegiatan kerja,
ia juga merupakan bhakta-Ku yang Aku kasihi.

12-17
yo na hrsyati na dvesti
na socati na kanksati
subhasubha-parityagi
bhaktiman yah sa me priyah

Dia yang tidak bersenang hati ataupun membenci,
tidak bersedih ataupun berkeinginan
dan yang telah melepaskan diri dari yang baik dan yang jahat,
ia yang mengabdi seperti itu merupakan bhakta yang Aku kasihi.

12-18 & 12-19
samah satrau ca mitre ca
tatha manapamanayoh
sitosna-sukha-duhkhesu
samah sanga-vivarjitah

tulya-ninda-stutir mauni
santusto yena kenacit
aniketah sthira-matir
bhaktiman me priyo narah

Ia yang bersikap sama terhadap kawan maupun lawan,
juga terhadap kehormatan dan kehinaan
dan yang bersikap sama pada panas dan dingin,
kesedihan maupun kesenangan,
bebas dari keterikatan.
Ia yang memandang sama terhadap pujian dan makian,
yang puasa bicara (mauna),
yang tetap puas dengan apapun yang ada,
yang tempat tinggalnya tidak tetap dan mantap dalam pikiran,
orang yang berbhakti seperti ini sangat Aku kasihi.

12-20
ye tu dharmamritam idam
yathoktam paryupasate
sraddadhana mat-parama
bhaktas te ’tiva me priyah

Tetapi,
mereka yang penuh keyakinan memandang-Ku sebagai tujuannya yang tertinggi,
mengikuti kebijaksanaan abadi ini,
bhakta yang demikian itulah yang paling Aku sayangi.

Disini berakhir Bab XII, percakapan yang berjudul: Bhakti Yoga

Kitab Bhagavad Gita Bab 11

Bab XI

Visvarupa Darsana Yoga

11-1
arjuna uvaca
mad-anugrahaya paramam
guhyam adhyatma-samjnitam
yat tvayoktam vacas tena
moho ’yam vigato mama

Arjuna berkata:
Oleh rahasia tertinggi berupa wejangan yang berkenaan dengan sang Diri,
yang telah Engkau berikan kepadaku atas anugerah-Mu,
sekarang keragu-raguanku telah hilang.

11-2
bhavapyayau hi bhutanam
srutau vistaraso maya
tvattah kamala-patraksha
mahatmyam api cavyayam

Kelahiran dan kepunahan segala sesuatunya telah kudengar secara rinci dari-Mu, wahai yang bermatakan seperti bunga daun teratai (Krsna),
demikian pula keagungan-Mu yang abadi.

11-3
evam etad yathattha tvam
atmanam paramesvara
drastum icchami te rupam
aishvaram purushottama

Benarlah apa yang telah Engkau nyatakan tentang keberadaan diri-Mu, wahai Penguasa Tertinggi;
tetapi aku berkeinginan untuk menyaksikan wujud Ilahi-Mu, wahai Purusottama (Krsna)

11-4
manyase yadi tac chakyam
maya drastum iti prabho
yogeshvara tato me tvam
darsayatmanam avyayam

Wahai Prabhu (Krsna),
bila Engkau berpendapat bahwa itu dapat aku saksikan,
mohon perlihatkan kepadaku sang Diri Abadi tersebut, wahai Yogesvara (Krsna)

11-5
sri-bhagavan uvaca
pasya me partha rupani
sataso ’tha sahasrasah
nana-vidhani divyani
nana-varnakritini ca

Sri Bhagavan bersabda:
Saksikanlah kini wujud-Ku, wahai Partha (Arjuna),
ratusan,
ribuan,
berbagai jenis gambaran Ilahi dengan berbagai ragam wujud dan warnanya.

11-6
pasyadityan vasun rudran
asvinau marutas tatha
bahuny adrsta-purvani
pasyascaryani bharata

Lihatlah para Aditya,
Rudra,
Asvin kembar
dan juga para Marut, wahai Bharata (Arjuna), banyak keajaiban yang belum pernah terlihat sebelumnya.

11-7
ihaika-stham jagat krtsnam
pasyadya sa-caracaram
mama dehe gudakesha
yac canyad drastum icchasi

Sekarang disini,
lihatlah seluruh alam semesta,
baik yang bergerak maupun yang tak bergerak serta apapun yang ingin kamu saksikan, wahai Gudakesa (Arjuna),
semuanya menyatu dalam diri-Ku

11-8
na tu mam sakyase drastum
anenaiva sva-caksusa
divyam dadami te caksuh
pasya me yogam aishvaram

Tetapi engkau tak akan dapat menyaksikan Aku dengan mata manusiamu itu.
Aku akan memberimu mata supra natural, lihatlah kekuasaan Ilahi-Ku

11-9
sanjaya uvaca
evam uktva tato rajan
maha-yogesvaro harih
darsayam asa parthaya
paramam rupam aishvaram

Sanjaya berkata:
Setelah berkata demikian, wahai sang Raja, Hari sebagai Yogesvara kemudian memperlihatkan Wujud Ilahi dan Tertinggi-Nya kepada Partha (Arjuna)

11-10 & 11-11
aneka-vaktra-nayanam
anekadbhuta-darshanam
aneka-divyabharanam
divyanekodyatayudham

divya-malyambara-dharam
divya-gandhanulepanam
sarvascarya-mayam devam
anantam vishvato-mukham

Dengan banyak mulut dan mata,
dengan banyak visi luar biasa,
banyak perhiasan ilahi serta senjata terhunus. Dengan mengenakan kalung rangkaian bunga dan pakaian surgawi,
dengan wewangian dan minyak surgawi,
yang semuanya gilang gemilang menakjubkan, tak terbatas,
dengan muka menghadap ke segala arah.

11-12
divi surya-sahasrasya
bhaved yugapad utthita
yadi bhah sadrsi sa syad
bhasas tasya mahatmanah

Bila sinar ribuan matahari sekaligus bercahaya semarak di angkasa,
itu mungkin menyerupai kesemarakan dari Perwujudan yang sangat agung tersebut.

11-13
tatraika-stham jagat krtsnam
pravibhaktam anekadha
apasyad deva-devasya
sarire pandavas tada

Di sana Pandava (Arjuna) menyaksikan seluruh alam semesta dengan berbagai macam bagian yang dikumpulkan jadi satu pada badan dewanya para dewa

11-14
tatah sa vismayavisto
hrsta-roma dhananjayah
pranamya sirasa devam
kritanjalir abhasata

Kemudian ia, Dhananjaya (Arjuna),
yang tersentak perasaannya dengan rasa kagum dan bulu romanya berdiri, membungkukkan kepalanya kepada Yang Kuasa dengan tangan mencakup dalam bersembah,
lalu berkata:

11-15
arjuna uvaca
pasyami devams tava deva dehe
sarvams tatha bhuta-visesa-sanghan
brahmanam isam kamalasana-stham
rsims ca sarvan uragams ca divyan

Arjuna berkata:
Dalam Wujud-Mu, wahai Tuhan,
aku melihat seluruh dewa
dan juga berbagai tingkat keberadaan, demikian pula Brahma sang pencipta yang duduk pada singgasana teratai
dan semua orang bijak
dan para naga surgawi.

11-16
aneka-bahudara-vaktra-netram
pasyami tvam sarvato ’nanta-rupam
nantam na madhyam na punas tavadim
pasyami visvesvara vishva-rupa

Aku melihat-Mu dalam wujud tak terbatas pada segala sisi,
dengan tangan, perut, muka dan mata yang tak terhitung banyaknya,
tetapi aku tak melihat akhir, pertengahan, dan permulaan-Mu, wahai Penguasa Alam Semesta dengan Wujud Universal.

11-17
kiritinam gadinam cakrinam ca
tejo-rasim sarvato diptimantam
pasyami tvam durniriksyam samantad
diptanalarka-dyutim aprameyam

Aku melihat-Mu dengan mahkota, gada, cakram yang berkilau-kilauan di mana-mana bagaikan kilatan sinar yang sulit untuk membedakannya,
yang gemerlapan pada semua sisi dengan pancaran nyala api dan matahari,
yang tak ada bandingannya.

11-18
tvam aksharam paramam veditavyam
tvam asya vishvasya param nidhanam
tvam avyayah sasvata-dharma-gopta
sanatanas tvam purusho mato me

Engkau adalah Yang Abadi,
Yang Tertinggi yang harus diwujudkan.
Engkau adalah tumpuan akhir dari alam semesta
dan Engkau adalah pengawal dharma yang kekal.
Kupikir Engkau adalah Pribadi Tertinggi.

11-19
anadi-madhyantam ananta-viryam
ananta-bahum sasi-surya-netram
pasyami tvam dipta-hutasa-vaktram
sva-tejasa vishvam idam tapantam

Aku memandang-Mu sebagai tanpa awal, pertengahan ataupun akhir,
dengan kekuasaan tak terbatas,
tangan yang tak terhitung banyaknya,
dengan bulan dan matahari sebagai mata-Mu, dengan muka bagaikan nyala api, yang pancarannya membakar alam semesta ini.

11-20
dyav a-prithivyor idam antaram hi
vyaptam tvayaikena disas ca sarvah
drishtvadbhutam rupam ugram tavedam
loka-trayam pravyathitam mahatman

Ruang antara surga dan bumi terliputi oleh-Mu saja,
demikian pula seluruh penjuru semesta, wahai Mahatman (Krsna),
ketika wujud-Mu yang menakutkan, menakjubkan itu terlihat,
ketiga dunia ini gemetar ketakutan.

11-21
ami hi tvam sura-sangha vishanti
kecid bhitah pranjalayo grnanti
svastity uktva maharsi-siddha-sanghah
stuvanti tvam stutibhih puskalabhih

Di sana sekelompok besar para dewa memasuki-Mu
dan beberapa kelompok lain dalam ketakutan dengan cakupan tangan memuja-Mu
dan kumpulan para rsi serta para siddha menyerukan kata “svasti”, dan memuji-muji-Mu dengan kidung-kidung pujian.

11-22
rudraditya vasavo ye ca sadhya
visve ’svinau marutas cosmapas ca
gandharva-yakshasura-siddha-sangha
viksante tvam vismitas caiva sarve

Para Rudra, Aditya, Vasu, Sadhya, Visvedeva, Asvin kembar, Marut dan para Usmapa (roh leluhur) serta para Gandharva, Yaksa, Asura dan para Siddha,
yang semuanya kagum memandang-Mu

11-23
rupam mahat te bahu-vaktra-netram
maha-baho bahu-bahuru-padam
bahudaram bahu-damstra-karalam
drishtva lokah pravyathitas tathaham

Melihat wujud-Mu yang maha agung dengan mulut dan mata yang banyak itu, wahai Mahabahu (Krsna),
dengan banyak sekali lengan, paha dan kaki; dengan banyak perut ditambah dengan taring yang sangat mengerikan,
seluruh alam semesta gemetaran,
demikian pula Aku.

11-24
nabhah-sprsam diptam aneka-varnam
vyattananam dipta-visala-netram
drishtva hi tvam pravyathitantar-atma
dhrtim na vindami samam ca visno

Ketika aku melihat-Mu yang menyentuh langit, yang cemerlang dengan berbagai warna, dengan mulut yang terbuka lebar dan mata lebar bersinar,
hati kecilku gemetar ketakutan dan aku merasakan ketidakmantapan dan kedamaian, wahai Visnu.

11-25
damstra-karalani ca te mukhani
drishtvaiva kalanala-sannibhani
diso na jane na labhe ca sarma
prasida devesa jagan-nivasa

Ketika aku melihat mulut-Mu yang mengerikan dengan taring-taringnya seperti kobaran api pralaya,
aku kehilangan arah dan tak menemukan kedamaian.
Wahai Penguasa para dewa,
tempat berlindung segenap alam semesta, berbaik hatilah padaku.

11-26 & 11-27
ami ca tvam dhritarashtrasya putrah
sarve sahaivavani-pala-sanghaih
bhismo dronah suta-putras tathasau
sahasmadiyair api yodha-mukhyaih

vaktrani te tvaramana vishanti
damstra-karalani bhayanakani
kecid vilagna dasanantaresu
sandrsyante curnitair uttamangaih

Disini semua putra putra Dhrtarastra bersama-sama dengan para raja lainnya,
demikian juga Bhisma, Drona dan Karna bersama dengan para panglima perang di pihak kami.
Semuanya berduyun-duyun masuk ke dalam mulut-Mu yang menakutkan dengan taring-taring yang mengerikan.
Beberapa orang tersangkut diantara gigi-gigi terlihat dengan kepalanya yang remuk jadi tepung.

11-28
yatha nadinam bahavo ’mbu-vegah
samudram evabhimukha dravanti
tatha tavami nara-loka-vira
vishanti vaktrany abhivijvalanti

Seperti arus sungai-sungai yang banjir mengalir menuju lautan,
demikian pula para pahlawan dunia manusia ini berlomba-lomba masuk ke dalam mulut-Mu yang menyala berkobar-kobar.

11-29
yatha pradiptam jvalanam patanga
vishanti nasaya samrddha-vegah
tathaiva nasaya vishanti lokas
tavapi vaktrani samrddha-vegah

Bagaikan kerumunan ngengat yang beterbangan masuk ke dalam kobaran api untuk musnah di sana,
demikian juga manusia berlarian masuk ke dalam mulut-Mu dengan sangat kencangnya untuk kehancuran mereka sendiri.

11-30

lelihyase grasamanah samantal
lokan samagran vadanair jvaladbhih
tejobhir apurya jagat samagram
bhasas tavograh pratapanti visno

Melahap seluruh alam semesta pada segala sisi dengan mulut-Mu yang menyala berkobar-kobar,
Engkau menjilat semuanya.
Sinar-Mu yang menggelora memenuhi segenap alam semesta dan membakarnya dengan kilauan cahaya yang dashyat, wahai Visnu (Krsna)

11-31
akhyahi me ko bhavan ugra-rupo
namo ’stu te deva-vara prasida
vijnatum icchami bhavantam adyam
na hi prajanami tava pravrttim

Beritahukanlah kepadaku siapakah yang berwujud menyeramkan ini.
Aku bersujud kepada-Mu Dewata Agung, ampunilah aku.
Aku ingin mengetahui Engkau,
yang Maha Esa,
karena aku tidak mengetahui kegiatan-Mu ini.

11-32
sri-bhagavan uvaca
kalo ’smi loka-ksaya-krt pravrddho
lokan samahartum iha pravrttah
rte ’pi tvam na bhavisyanti sarve
ye ’vasthitah pratyanikesu yodhah

Sri Bhagavan bersabda:
Aku adalah waktu (kala),
sebagai pemusnah alam dunia yang tumbuh menjadi masak
dan terlibat di sini dalam memusnahkan dunia ini.
Bahkan tanpa kegiatanmu,
seluruh pasukan yang berdiri dalam formasi tempur ini akan musnah semuanya.

11-33
tasmat tvam uttistha yaso labhasva
jitva satrun bhunksva rajyam samrddham
mayaivaite nihatah purvam eva
nimitta-matram bhava savya-sacin

Oleh karena itu,
bangkitlah engkau dan raihlah kemenangan. Taklukkan musuh-musuhmu dan nikmatilah kerajaan yang makmur sejahtera.
Sebenarnya mereka semua telah Aku musnahkan;
sedangkan engkau hanyalah alat belaka, wahai Savyasacin (Arjuna)

11-34
dronam ca bhismam ca jayadratham ca
karnam tathanyan api yodha-viran
maya hatams tvam jahi ma vyathistha
yudhyasva jetasi rane sapatnan

Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna dan para pahlawan agung lainnya,
yang semuanya telah Aku musnahkan. Janganlah gentar;
bertempurlah dan engkau harus menaklukkan musuh-musuh dalam peperangan ini.

11-35
sanjaya uvaca
etac chrutva vacanam keshavasya
kritanjalir vepamanah kiriti
namaskritva bhuya evaha krishnam
sa-gadgadam bhita-bhitah pranamya

Sanjaya berkata:
Setelah mendengar ucapan Kesawa (Krsna) seperti itu,
Kiritin (Arjuna) dengan cakupan tangan dan gemetaran,
kembali bersujud dan membungkukkan dirinya dengan sangat ketakutan mengucapkan suara tersendat gemetaran kepada Krsna:

11-36
arjuna uvaca
sthane hrishikesha tava prakirtya
jagat prahrsyaty anurajyate ca
rakshamsi bhitani diso dravanti
sarve namasyanti ca siddha-sanghah

Arjuna berkata:
Wahai Hrsikesa (Krsna),
benarlah bahwa dunia merasa bergembira dan senang dalam memuliakan-Mu.
Para Raksasa lari ketakutan ke segala arah
dan semua kumpulan para siddha bersujud di hadapan-Mu, bersembah.

11-37
kasmac ca te na nameran mahatman
gariyase brahmano ’py adi-kartre
ananta devesa jagan-nivasa
tvam aksharam sad-asat tat param yat

Dan mengapa mereka tidak memberi-Mu penghormatan, wahai Mahatma (Krsna),
yang lebih agung dari pada Brahma,
pencipta pertama?
Wahai Keberadaan Tak terbatas.
Penguasa para dewa,
tumpuan alam semesta;
Engkau adalah abadi,
keberadaan dan bukan keberadaan dan yang melampauinya.

11-38
tvam adi-devah purushah puranas
tvam asya vishvasya param nidhanam
vettasi vedyam ca param ca dhama
tvaya tatam vishvam ananta-rupa

Engkau adalah Pribadi Pertama,
Yang Pertama dari para dewa,
sebagai Tumpuan Alam Semesta yang Tertinggi.
Engkau adalah yang mengetahui dan yang harus diketahui serta menjadi tujuan utama. Dan oleh-Mu jualah alam semesta ini diliputi, wahai Yang Berwujud Semesta

11-39
vayur yamo ’gnir varunah sasankah
prajapatis tvam prapitamahas ca
namo namas te ’stu sahasra-kritvah
punas ca bhuyo ’pi namo namas te

Engkau adalah Vayu (dewa angin),
Yama (dewa kematian),
Agni (dewa api),
Varuna (dewa laut),
dan Sasarika (bulan)
dan Prajapati (leluhur semua mahluk).
Bagi-Mu kuucapkan Svasti, svasti ribuan kali. Svasti, svasti berkali-kali

11-40
namah purastad atha prsthatas te
namo ’stu te sarvata eva sarva
ananta-viryamita-vikramas tvam
sarvam samapnosi tato ’si sarvah

Sembah sujud di depan-Mu,
di belakang-Mu,
pada segala sisi-Mu;
kekuasaan-Mu tak terbatas dan tak terukur kekuatan-Mu, wahai Semuanya ini.
Engkau meliputi segalanya ini,
sehingga Engkau adalah Semuanya ini.

11-41 & 11-42
sakheti matva prasabham yad uktam
he krishna he yadava he sakheti
ajanata mahimanam tavedam
maya pramadat pranayena vapi

yac cavahasartham asat-krto ’si
vihara-sayyasana-bhojanesu
eko ’tha vapy acyuta tat-samaksham
tat ksamaye tvam aham aprameyam

Terhadap apapun yang telah kukatakan kepada-Mu dengan kasar,
dengan berpikir bahwa Engkau adalah kawanku
dan tak menyadari akan keagungan-Mu, wahai Krsna, wahai Yadava, wahai Kawan;
semuanya berasal dari kealpaan dan mungkin karena keakraban saja.
Dan apapun kekurangsopanan yang telah kulakukan pada-Mu dalam senda gurauan ketika bermain atau di tempat tidur,
ketika duduk-duduk atau pada saat makan sendirian maupun bersama yang lainnya,
aku memohon kepada-Mu, wahai Acyuta (Krsna),
ampunan dan maaf yang tak terkira banyaknya.

11-43
pitasi lokasya caracarasya
tvam asya pujyas ca gurur gariyan
na tvat-samo ’sty abhyadhikah kuto ’nyo
loka-traye ’py apratima-prabhava

Engkau adalah Bapak dari dunia yang bergerak maupun yang tak bergerak,
Engkau adalah obyek pemujaan dan guru yang dimuliakan.
Tak ada yang menyamai-Mu,
sehingga mana mungkin ada yang lebih agung dari pada-Mu di ketiga dunia ini, wahai Engkau yang tak tertandingi.

11-44
tasmat pranamya pranidhaya kayam
prasadaye tvam aham isam idyam
piteva putrasya sakheva sakhyuh
priyah priyayarhasi deva sodhum

Oleh karena itu,
dengan membungkukkan badanku di hadapan-Mu,
Yang Maha Mulia,
aku mohon berkah-Mu.
Ya Tuhan Engkau harus memandangku sebagai seorang ayah pada anaknya,
sebagai seorang teman dengan teman,
sebagai seorang kekasih dengan yang dikasihinya.

11-45
adrsta-purvam hrsito ’smi drishtva
bhayena ca pravyathitam mano me
tad eva me darsaya deva rupam
prasida devesa jagan-nivasa

Aku telah menyaksikan apa yang sebelumnya belum pernah kusaksikan
dan Aku merasa senang,
tetapi hatiku gemetar ketakutan.
Perlihatkan kepadaku wujud-Mu yang sebelumnya.
Wahai Tuhan dan berbaik hatilah,
wahai Penguasa para dewa dan Tumpuan Alam Semesta Raya ini.

11-46
kiritinam gadinam cakra-hastam
icchami tvam drastum aham tathaiva
tenaiva rupena catur-bhujena
sahasra-baho bhava vishva-murte

Aku ingin menyaksikan-Mu semula,
dengan mahkota, gada dan cakra di tangan; dalam wujud-Mu yang berlengan empat, wahai perwujudan semesta.

11-47
sri-bhagavan uvaca
maya prasannena tavarjunedam
rupam param darshitam atma-yogat
tejo-mayam vishvam anantam adyam
yan me tvad anyena na drsta-purvam

Sri Bhagavan bersabda.
Dengan anugerah dan melalui kekuasaan-Ku, wahai Arjuna,
telah Kuperlihatkan kepadamu wujud tertinggi yang cemerlang,
semesta tak terbatas dan paling utama,
yang tak seorangpun pernah menyaksikannya, kecuali engkau sendiri.

11-48
na veda-yajnadhyayanair na danair
na ca kriyabhir na tapobhir ugraih
evam-rupah sakya aham nr-loke
drastum tvad anyena kuru-pravira

Bukan dengan kitab suci Veda,
pelaksanaan kurban,
belajar,
amal sedekah,
upacara seremonial
ataupun dengan melakukan tapah,
Aku dapat dilihat di dunia manusia oleh siapapun juga kecuali engkau, wahai Kurupravira (Arjuna)

11-49
ma te vyatha ma ca vimudha-bhavo
drishtva rupam ghoram idrn mamedam
vyapeta-bhih prita-manah punas tvam
tad eva me rupam idam prapasya

Semoga engkau tidak menjadi takut,
maupun kebingungan dalam menyaksikan wujud-Ku yang menakutkan itu.
Bebaskanlah dari rasa takut dan bersenang hatilah,
lihatlah kembali wujud-Ku yang semula.

11-50
sanjaya uvaca
ity arjunam vasudevas tathoktva
svakam rupam darsayam asa bhuyah
asvasayam asa ca bhitam enam
bhutva punah saumya-vapur mahatma

Sanjaya berkata:
Setelah berkata demikian kepada Arjuna, Vasudeva (Krsna) memperlihatkan kembali wujudnya yang semula.
Sang Mahatma setelah kembali mengenakan wujud welas asih-Nya yang menenangkan ketakutan Arjuna.

11-51
arjuna uvaca
drstvedam manusam rupam
tava saumyam janardana
idanim asmi samvrttah
sa-cetah prakritim gatah

Arjuna berkata:
Menyaksikan kembali wujud manusia-Mu yang lemah lembut, wahai Janardana (Krsna),
aku kini telah menjadi tenang kembali seperti sebelumnya.

11-52
sri-bhagavan uvaca
su-durdarsham idam rupam
drstavan asi yan mama
deva apy asya rupasya
nityam darshana-kanksinah

Sri Bhagavan bersabda:
Wujud-Ku itu yang sungguh-sungguh sulit untuk melihatnya,
telah Engkau saksikan.
Bahkan para dewa sekalipun senantiasa berharap untuk dapat menyaksikan wujud itu.

11-53
naham vedair na tapasa
na danena na cejyaya
sakya evam-vidho drastum
drstavan asi mam yatha

Dalam wujud yang telah engkau saksikan tadi. Aku tak dapat disaksikan baik melalui kitab suci Veda maupun melalui pelaksanaan tapa ataupun dengan amal sedekah
atau upacara kurban.

11-54
bhaktya tv ananyaya sakya
aham evam-vidho ’rjuna
jnatum drastum ca tattvena
pravestum ca parantapa

Tetapi dengan pengabdian yang tak tergoyahkan kepada-Ku, wahai Arjuna,
Aku dapat diketahui
dan benar-benar dilihat dan juga diselami, wahai Paramtapa (Arjuna)

11-55
mat-karma-krn mat-paramo
mad-bhaktah sanga-varjitah
nirvairah sarva-bhutesu
yah sa mam eti pandava

Ia yang bekerja untuk-Ku,
ia yang memandang Aku sebagai tujuannya dan memuja-Ku,
terbebas dari keterikatan,
ia yang bebas dari kedengkian terhadap semua mahluk,
ia akan sampai kepada-Ku, wahai Pandava (Arjuna)

Di sini berakhir bab XI, percakapan yang berjudul: VIsvarupa Darsana Yoga